Mistletoast

Hasil gambar untuk christmas eve tumblr

It’s like the most wretched winter ever

Selama dua puluh dua tahun hidupnya, Rachel tak pernah menyangka bahwa ia akan terjebak dalam situasi seperti ini. Seperti ini―seperti tenggorokannya yang bertambah kering pada setiap dentingan pisau yang beradu dengan piring atau pada setiap sesapan sisa wine ditambah kikikan menggelikan kedua orang tuanya di ujung lain ruang makan.

Makan malam keluarga di malam natal tidak pernah terasa buruk bagi Rachel. Ia suka ayam panggang buatan ibunya atau roti manis dengan kismis setiap tahun dan ia sama sekali tak mempunyai masalah dengan sebongkah shortcake di atas meja walaupun kenyataannya ia benci setengah mati dengan krim. Tapi percayalah, ia rasa tangannya tak pernah berkeringat begitu parah. Marah, kesal, terancam, semua terakumulasi pada setiap inci tubuh Rachel dan menjadi kesatuan sensasi yang sangat tak ia suka.

Sudah Rachel bilang masalah malam ini bukan karena Shortcake. Ia hanya tak memperkirakan jika akan ada anggota tambahan dalam ritual natal keluarganya tahun ini. Parahnya, mereka adalah sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki seumurannya. Rachel tak bodoh untuk dapat menebak bagaimana acara makan malam ini akan berakhir.

Keluarga Christensen ada di balik pintu rumah Rachel malam ini dengan senyum merekah, dua buah mistletoe dan seorang pria yang sama sekali asing bagi Rachel. Mereka mengucapkan selamat natal sebentar sebelum ibunya mempersilahkan mereka masuk. Awalnya Rachel sama sekali tak mengira bahwa pria asing ini mempunyai hubungan dengan keluarga Christensen mengingat wajahnya yang kelewat datar, kontras dengan raut hangat yang setiap hari ada pada wajah Nyonya Christensen.

Makan malam mereka dimulai dengan percakapan basa-basi seperti ‘Wah, Rachel sudah sebesar ini, ya.’ Atau ‘Rachel jadi semakin cantik’ yang hanya disambut dengan tawa sekenanya dari si gadis, sementara otaknya sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi setelahnya.

Ia jadi ingat bagaimana ia berdeklarasi tentang lelaki di depan ayah ibunya ketika topik ini tiba-tiba mencuat diantara makan malam keluarga mereka tempo hari. Rachel bilang ia hanya ingi fokus menyelesaikan studinya untuk saat ini dan persuasinya saat itu sangat meyakinkan ketika ayah dan ibunya memilih menghormati segala keputusan anak perempuannya.

Kalau sudah begini ia jadi merasa terkhianati.

You know what’s exactly going on here and I want you―at least―to cooperate.” Ada sedikit serak dari vokalnya yang muncul tanpa sengaja. “Aku cukup tahu kalau kau juga tidak menduga hal-hal seperti ini akan terjadi. Tapi kuakui reaksimu cukup tenang menghadapi masalah ini.” Pria di sebelahnya sudah lebih dari satu setengah jam bercumbu dengan ponsel, tak acuh, namun senyum tipis mengerikan yang sedari tadi tak pernah lepas dari bibirnya mambuat Rachel sangat tak nyaman. Max, Maximiliam, bahkan rachel baru dua jam mengenalnya. Mungkin Rachel tak pernah terlalu peduli bahwa keluarga Christensen mempunyai seorang putra dengan kulit putih pucat dan muka penuh bintik di sepanjang hidung dan pipi. Namun dengan keadaan saat ini, ia dipaksa untuk peduli.

Max berdehem sebentar sebelum menarik sepanjang otot bibirnya lagi. “Like I care.”

Please, ini memuakkan. Ia dijodohkan. Kata yang cukup buruk untuk gadis penganut paham liberalis kendati pria bernama Max ini tampangnya cukup menyenangkan untuk dilihat berlama-lama. Hidup Rachel cukup sempurna selama ini tanpa ada drama picisan antar pasangan, satu dari seribu alasan mengapa teman-temannya selalu mengeluh tentang hubungan sosialnya yang sangat tidak seru. Punya ikatan dengan seorang lelaki itu merepotkan bagi Rachel, apalagi dengan yang macam seperti Max.

Maniknya berputar penuh menanggapi pernyataan dari si Pria berbintik “Tapi kau harus peduli, Bung. Ini menyangkut masa depan dan kurasa orang tuaku dan orang tuamu berpikir jika kita bisa menjadi pasangan yang akur dan manis. Kau―dan mereka―bahkan baru melihat mukaku tidak lebih dari dua jam dan aku ingatkan aku bisa menyakar siapapun yang melanggar batas privasiku.”

Pada tahap ini Rachel sama sekali tak peduli jika semua orang mengatainya galak. Toh, ia sadar kalau ia memang galak.

“Kau bicara tentang masa depan seolah kau tahu bagaimana cerita hidupmu akan berakhir, nona.” Pria berlabel Max itu tertawa sebentar, meletakkan ponsel dengan lampu notifikasi yang masih berkedip-kedip. Rachel kira si lelaki sedang asyik membicarakan dirinya dengan teman-temannya. “Siapa tahu konspirasi semesta membuatmu akhirnya jatuh cinta padaku.”

“Ewh, for God’s sake, no way.”

“Maybe, yes way.” Timpalnya meremehkan. Obdisiannya masih mengamati seluruh gestur dari Rachel dengan pandangan paling mengintimidasi sedunia sampai dia menaikkan satu sudut bibirnya. “Coba aku tebak, kau pasti belum pernah pacaran sebelumnya.”

Rasanya mendadak Rachel memiliki urgensi untuk mengeluarkan apapun isi perutnya malam ini. Ia dengan cepat meletakkan garpu dengan sepotong ayam masih menancap di sana. Ini tetap saja menyebalkan walaupun Rachel sebenarnya sudah berkali-kali mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut orang, tapi mendengarnya dari Max entah kenapa menimbulkan reaksi yang sama sekali berbeda pada tubuh Rachel. “Memangnya salah kalau belum pernah punya pacar?” Lanjut si gadis mencoba setidaknya mempertahankan harga diri.

“Ah―tidak juga, sih. Tapi itu rasanya seperti hal baru buatku.”

Tiba-tiba saja muka Rachel dipenuhi dengan rona merah, sebagian karena malu dan sisanya karena kesal. Kalau Max yang bilang, rasanya belum pernah pacaran selama dua puluh dua tahun menjalani hidup adalah aib terbesar yang pernah dimiliki kaum manusia.

Max tidak bisa menggeneralisasi semua orang dalam sudut pandangnya. Mungkin Maximiliam Christensen punya jam terbang romansa yang sangat tinggi dan sama sekali tidak bisa jika jadwal tersebut tidak padat untuk sekali waktu saja. Namun berbeda bagi orang-orang seperti Rachel yang setidaknya masih ingin menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri dengan cara yang menyenangkan, tanpa embel-embel pacar. Ia hanya belum menemukan yang cocok, ia bukan Max dengan kuriositas berlebihan sehingga mencoba sembarang hal terdengar menantang.

Pada tahap ini Rachel merasa sudah mengenal Max ribuan tahun penuh padahal ia baru memulai konversasi dengannya dua puluh menit yang lalu, sama sekali tidak ada menyenangkannya pula.

Maka dalam rangka untuk mengendalikan perubahan emosi tiba-tiba yang terjadi pada tubuh Rachel, pilihan terbaik untuk saat ini adalah kabur ke toilet. Omongan pria ini seperti belut, licin dan Rachel memilih untuk tidak terjebak di dalamnya atau bisa-bisa ia yang kena malu karena kalah omong. Ia melengos tanpa memandang Max, dengan imbuhan bantingan pisau ke meja, menyiram air sebanyak-banyaknya pada muka segara setelah ia mendobrak pintu toilet.

Rachel berpikir ia akan menghabiskan sisa malam natal di toilet saja atau setidaknya sampai keluarga Christensen pulang dan Rachel bersumpah ia akan memaksa orangtuanya untuk mengadakan rapat keluarga dadakan sebelum sederet suara bariton membuat jantungnya hampir copot.

“Mau bertaruh?”

Oke, Rachel mencoba menyugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang pada keadaan seperti ini. Ia sama sekali tak boleh membiarkan emosi memenuhi kepalanya. Lagipula ini malam natal, ia harus menjadi anak baik dengan begitu mungkin Sinterklaus akan berbaik hati menceburkan pria ini ke penggorengan kentang.

“Like what?”

“Tiga puluh hari.”

Apa―Tiga puluh, apa? Ujung-ujung alis Rachel bertemu mendengar perkataan Max dan dari dahinya yang dipenuhi kerutan, Rachel tahu bahwa ia benar-benar tak paham dengan apa yang dikatakan pria ini. “Dalam tiga puluh hari, kau akan jatuh cinta padaku.” What? Ia sedang mabuk atau bagaimana, sih?

“Kau tahu, aku tidak suka saat wanita menolakku dengan alasan-alasan payah. Lagipula mengencani wanita yang belum pernah pacaran sebelumnya terdengar cukup menyenangkan.”

Diantara semua situasi yang sangat lucu ini, Rachel jadi termenung sebentar memikirkan apakah orang tuanya tahu kalau mereka mempunyai anak yang suka membuat pernyataan seenak jidat macam ini. Kalau tidak, kasihan sekali mereka.

“Kalau ternyata tiga puluh harimu gagal, bagaimana?”

“I’ll do whatever you want.”

 

Itu cukup menggiurkan, ia hanya perlu untuk tidak jatuh cinta saja―yang dimana ia benar-benar percaya diri akan hal itu―dan voila, ia mungkin jadi wanita pertama yang didaulat bisa menjatuhkan harga diri Max ke dalam lautan.

Setitik air jatuh dari dagu Rachel, mukanya belum sepenuhnya kering atas siraman-siraman kasar barusan. Ia sendiri tidak begitu tahu kenapa wajahnya masih saja panas dan mencoba mempertanyakan ketidakberesan metabolisme tubuhnya sendiri. Itu sesaat sebelum vokal milik Max menggema lagi menimpali sikap diam Rachel.

“Okay, then, deal.”

―End

A/N :

  1. So nasty, lagi berusaha merangin WB dan gatau kenapa bisa jadi drama banget kaya gini menangos aja :[
Advertisements

4 thoughts on “Mistletoast

  1. Kkkkkkk halo, kak. Sebelumnya happy fasting!
    Teruuuus gini aku udah like sama kelarin bacanya dari kemaren, tapi baru bisa kasih komentar sekarang. Heheh
    nulis romance itu kayaknya emang cari efektif buat ga munculin wb. and i feel it.
    Hueeee mau dong jadi rachel yg tiba2 dijodohin sama cowok ganteng :” Walaupun zaman sekarang perjodohan itu cuma ada di drama korea. Tapi, tenang kok, kak! Bagiku perjodohan max dan rachel nggak seklise drama korea. Soalnya aku suka tipe cewek kayak rachel yg for-the-god-sake-i-dont-care. Pokoknya tipikal jutek dan terserah orang aja lah mau apa, kkkk
    Di samping itu, max yg demen narik ulur, aku juga sukaaa xD

    And i found some typing error yg manusiawi ;
    Diantara ….. (Di antara)
    ….orang tuanya …… (orangtuanya)

    Btw, aku liza, kak. Line 99, pernah berkunjung beberapa kali di postingan kakak (kali aja lupa) :>

    1. Halo Lizaaa! happy fasting for you too! iyaaah buener gatau kenapa ya kalo udah wb tuh yang kepikir cuman romance, kalo nulis romance tuh kaya yang gausah mikir banget walopun ini jadinya juga so drama kaya telenovela :” dan aku lagi wb parah parah parah siklusnya udah kaya setiap mau nulis-stuck-cape mikir-gajadi nulis-repetisi pengen menangos aja akutuh :” iiih iya ya perjodohan tuh tipikal drakor banget yaallah tapi entah kenapa buat aku perjodohan tuh such a cute thing apalagi yang kaya awalnya jutek jutekan terus lama lama suka sukaan gituu iiih gemes (yaallah korban drakor)
      aaak makasih banget yah koreksinya!
      Iyah Liza kita udah pernah kenalan belom sih? aku saking lamanya ngga buka wp jadi lupa :” kayanya udah kan ya? huhuu kita kenalan lagi aja yaah aku asa line 93! makasih yah udah mampir Lizaa i’ll visit yours too later! ❤

  2. Hi, kak Asa? 🙂 You can call me Sher, and I’m 19 this year, jadi semoga gak salah manggil ya aku hehe.

    Udah pernah liat kak Asa sih kayaknya, cuman baru kesempatan baca sekarang, and I’m so happy because this is nice. Kalimatnya lugas, asik gitu, dan… Max tipikal cowok-cowok berandal yang by the end of the day kita suka aja walaupun nyebelin 😂😂 pasti bakal seru kalo Rachel gak suka ya, bisa malu Max HAHAHA. Dibuat lanjutannya dong kalau ada waktu kak 😄

    Last, keep main something awesome and have a nice day kak 🙂

    1. Halo Sher! Maaf ya baru bales komen kamu 😦 aku asa, 24 this year (god kenapa aku sedih banget ngetik ini kenapa) ih ih rasanya aku pernah baca tulisan kamu di mana gitu aku lupa dan what aku ngefans! Aku inget banget sama penname kamu jadi kaget aja kamu tiba tiba komen disini :’) Dan iya max, kenapa ya dia begitu :’) iya insyaallah semoga bisa dilanjut ya ini :’) makasih ya Sher udah baca dan main ke wp aku, I’ll visit yours too for sure!

      You too! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s