Shouldn’t Be

Hasil gambar

Roxanne Morton, Si gadis egois.

Sang Lancelot tak lekas memilih pulang setelah semua kepentingan yang mengharuskannya menghabiskan beberapa hari di Nottingham selesai. Alih-alih mengambil kereta paling pagi ke London, keretanya kali ini membawanya membelah kabut di antara hamparan pinus, menuju Greenwich. Perjalanan ilegal, sama sekali tak ada persetujuan yang dibuat sebelumnya yang artinya ia harus ekstra hati-hati. Mungkin hanya untuk beberapa jam, tak masalah baginya asal pelariannya tak di ketahui oleh Merlin atau lelaki botak itu akan mengomel seharian. Sungguh, Ia hanya butuh istirahat dan mengisi paru-parunya dengan udara bersih. Beberapa hari yang ia habiskan di Nottingham membuat keadaan mentalnya agak kacau.

Gadis itu menghela napas panjang. Ia masih duduk melipat kaki sembari mulai merasakan sedikit kebas pada pantatnya. Sebenarnya ini bukan murni idenya, bahkan singgah sebentar di Greenwich bukan merupakan intensi utama si Gadis dari awal.

Ia hanya mengikuti Eggsy.

Roxy―Sang Lancelot, beruntung menemukan selembar tiket kereta lusuh di mantel milik pria itu kemarin pagi, membuat kursi penumpang di depan Eggsy yang seharusnya kosong kini diisi dengan gadis bersurai sewarna biji pinus tersebut. Diikat ekor kuda asal oleh si pemilik.

Roxy memaksanya membeli tiket tambahan, omong-omong

Gadis itu tahu betul Eggsy tak berniat mengajaknya mengingat si Pria sama sekali tak mengatakan apapun pada Roxy. Maka Roxy memakai rencana liburan sebagai dalih padahal si Gadis hanya tak ingin membiarkan pria itu pergi kemanapun sendirian.

“Something goes wrong, Eggsy?” Tanyanya. Jengah dengan hening yang mencekik selama beberapa jam.

Eggsy Unwin tak menjadi dirinya beberapa hari ini, setidaknya hal itu merupakan salah satu dari setumpuk hal yang mengganggu pikiran Roxy selama bertugas di Nottingham. Roxy biasa menemukan Eggsy dengan rasa percaya diri yang kelewatan dan semua lelucon garing yang membuat Roxy harus terpaksa tertawa―tapi tak masalah baginya, toh gadis itu menyukai semua lelucon garing milik Eggsy. Atau tepukan-tepukan pelan di bahu ketika terkadang beberapa hal tak berjalan dengan baik bagi si Gadis. Well Roxy akui, tepukan-tepukan pelan milik pria payah ini mampu membuat Sang Lancelot bisa menjadi lebih tenang.

Namun beberapa hari kebelakang, Roxy hanya dapat menemukan mendung tipis menyelimuti manik si Pria. Mengendap di sana bercampur bersama iris kelabu miliknya, menjadi gradasi warna yang Roxy tak begitu suka. Dan rasa penasaran atas perubahan sikap partnernya yang terjadi mendadak lambat laun berubah menjadi rasa khawatir yang membumbung.

“Dude, are you okay?”

Selang beberapa sekon ketika kereta mereka berbelok curam, menembus kanal yang gelap, membuat setiap sudut di gerbong mereka hanya diisi dengan cahaya suram lampu kereta, ditambah hening yang masih rancu. Hutan pinus yang mengisi bilik jendela berganti dengan pantulan wajah kusut milik Eggsy dan sisanya hanya tautan alis milik Roxy.

“I’m okay, Roxanne.”

“Liar, huh. Kamu pikir aku begitu saja menggantikan Lancelot hanya karena bisa menebak akting burukmu? ”

Eggsy tertawa sebentar, kepalanya masih menopang dagu di pinggiran jendela yang gelap. “Yeah, Dear Lancelot.”

Yaampun, Demi Tuhan, melihat kekehan pertama keluar dari mulut Eggsy semenjak mereka meninggalkan London merupakan sesuatu yang paling melegakan selama beberapa hari ini. Eggsy tak pernah tahu bagaimana Roxy sebisa mungkin menahan rasa khawatir atas sikap pria itu, takut-takut semua perkataannya akan mengganggu tugas Eggsy. Cukup dengan abdomennya yang hampir saja tertembus peluru karena beberapa hari ini, Eggsy mampu menjadi pusat distraksi utamanya.

“It is all about Galahad, right or wrong?”

 

Tak ada anggukan, pun gelengan. Yang ditaya hanya tertawa pelan. Obsidiannya masih merefleksi deretan pohon pinus. Roxy cukup peka kalau keadaan mental Eggsy juga sedang tak baik apalagi setelah kematian Galahad. Maka dari itu, Si gadis rela mengekori Eggsy kemanapun ia pergi untuk sebagai tindakan antisipasi untuk hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Eggsy tak bodoh, Roxy tahu. Tapi salahkan dirinya sendiri, gadis ini benar-benar tak tahu bagaimana caranya mengendalikan pikiran negatif di otaknya.

Roxy bertemu Harry hari itu, di ujung lorong menuju kantin. Ia sempat menyapa Harry dan mendapat tepukan pelan dikepala serta gumaman pelan tentang menjaga Eggsy atau semacamya, saat itu si Gadis tak begitu memperhatikan―sungguh ia sedang terburu-buru. Seingatnya Harry hanya berkata akan menghadiri misa di gereja pusat kota, lalu dengan senyum khasnya ia melengang pergi. Roxy tak akan pernah tahu bagaimana pagi itu akan menjadi pagi terakhirnya bertatap muka dengan Harry.

Ia kehilangan, tentu, tapi ia bersumpah sampai matipun ia tak akan memberitahu perihal pertemuannya dengan Harry pada Eggsy.

“Dia mati dalam tugas, dan tak ada yang lebih mengagumkan dari itu.” Roxy mengguman pelan.

Tak banyak yang Eggsy tahu jika jauh di dalam hati Roxy, sebanyak apapun si Gadis kehilangan Harry, gelenyar kelegaan mengaliri seluruh tubuhnya. Karena hari itu ia tahu, kehadiran Harry pada misa hari itu sudah diatur sedemikian rupa. Ia tahu jika yang pergi saat itu seharusnya bukan Harry, melainkan Egssy.

Yah, Roxanne Morton memang seegois itu.

Senyum tipis mengembang saat maniknya betemu bola sewarna langit milik Eggsy.

 

And, thanks Eggsy. Thanks for not dying.

_

HUWEK! T^T

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s