Windley’s Life Game

Apollo butuh jalan keluar. Beruntungnya, Artemis menawarkan satu.

Apollo Windley tak pernah main-main kala sudut bibirnya naik sebelah menghadapi pertanyaan macam ‘apa hidupmu cukup menyenangkan selama dua puluh dua tahun terakhir?’ karena, well, ia tak pernah tega untuk membohongi dirinya sendiri. Hidupnya tak pernah cukup baik sampai saat ini. Sampai sekelabat pemikiran tentang seteguk cairan pembersih lantai sebelum tidur menyambangi otaknya―yang langsung ia asumsikan sebagai opsi terbaik untuk lari dari semua kesialan yang membelit hidup.

 

Ia sedang dipecundangi dunia. Apollo sadar penuh, kok.

 

Tapi ia tahu kalau Artemis akan menampar pipinya keras-keras ketika bahkan ia belum menyuarakan pemikirannya pada si Gadis. Artemis harus tahu kalau Apollo terlalu loyal untuk mati sendirian―loyal atau takut, entah, batas artiannya terlalu tipis bagi si Pria. Artemis bukan penganut paham ‘bunuh diri saat depresi’, itu hal konyol bagi Artemis. Ia tipikal wanita dengan seember logika memenuhi sebagian kepalanya dan Ingatkan kalau tamparan gadis itu cukup buruk untuk dirasakan lelaki manapun.

 

Tentu saja, Apollo lebih takut amukan Artemis ketimbang mati.

 

Apollo Windley tinggal di apartemen lima lantai di pinggiran Toronto, Ontario, bersama Artemis Windley―saudari kembar terpaut lima menit-nya. Satu yang tidak terlalu dekat dengan laut karena Artemis membenci bau amis ikan seumur hidupnya―padahal Apollo berani bertaruh dua juta dolar bahwa bau amis ikan tak akan tercium sampai kamar mereka. Artemis menolak mentah, hal-hal itu membawa ingatan samar tentang masa kecilnya dan entah kenapa artemis selalu ingin muntah jika ingatan masa lalu tiba-tiba menelusup ke otak.

Meja makan kusam, telur dan bacon. Repetisi untuk setiap pagi kecuali Artemis yang kini tak lagi ada di sudut dapur dengan wajah kusut dan rambut ikal oranye miliknya, memegang sendok dengan mata bolak-balik dari piring sarapannya menuju kolom-kolom lowongan pekerjaan. Ada jungkitan alis yang aneh ketika Apollo mengira saudarinya sedang tidak nafsu makan. Alih-alih menyatroni dapur, Apollo malah menemukan Artemis di lantai paling atas apartemen mereka―di atap―tengah menghela napas banyak-banyak yang lantas membuat si kakak tersenyum kecut.

 

“Sarapan tak akan membuatmu gendut, Arty.” Entah sejak kapan Apollo sudah berada di samping si gadis, mendesis tepat di sebelah telinga Artemis, membuat sekujur tubuh gadis itu menegang seketika. Kepalanya menoleh, menghujani Apollo dengan tatapan kurang suka.

 

“Menyingkirlah, mulutmu bau.”

 

Biasanya Apollo akan dengan senang hati mendengarkan semua omongan adiknya―kecuali yang aneh-aneh. Ia tipikal kakak yang lumayan sayang adik, well, karena gadis ini hanya satu-satunya orang yang ia bisa panggil keluarga. Namun untuk hari ini Apollo lebih memilih sikap tak acuh, dengan santainya mengambil spasi di sebelah Artemis. Senyum menggelikan terbentuk di sepanjang bibir. Kakinya ia keluarkan dari pagar pembatas. Tumitnya menabrak dinding kemudian ia ayunkan lagi, begitu terus hingga beberapa siklus.

 

“Memikirkan apa?”

 

“Bukan urusanmu, App.”

 

“Kalau itu tentang ibu, aku sarankan lebih baik kau turun dan makan sarapanmu.” Senyumnya menghilang seketika. Tidak hilang sepenuhnya, sih, namun berganti menjadi seringai miris melihat bintang-bintang keterkejutan dalam iris saudarinya. Oh, ayolah, Apollo bahkan sudah berdempetan dengan Artemis sejak belum lahir. Menebak pikiran Artemis bukan perkara sulit. Kau tahu ‘kan, anak kembar selalu punya ‘sesuatu’ yang spesial untuk satu sama lain, tapi Apollo tak begitu suka menyebutnya telepati atau apapun itu. Memang dia alien?

Bilang saja mereka tengah berada pada titik terendah dalam hidup mereka  (Oh, tunggu Apollo sangsi akan pernyataan itu. Mungkin masih akan ada yang lebih buruk dari keadaan mereka sekarang dan saat itu terjadi, ia tak akan sungkan-sungkan pada Artemis untuk meneguk cairan pembersih lantai di depan si Gadis sekalipun. Masa bodoh dengan acara loyal-loyalan). Baik ia maupun saudarinya jadi begitu sensitif dengan hal-hal kecil begini. Maka Apollo hanya bisa mengamini perilaku adiknya yang menjadi gadis setengah melankolis dengan mata berair dan hidung memerah.

 

“Ayolah, Arty. Kita hidup dalam realitas. Kau tak bisa begitu saja memutar balik semuanya menjadi satu yang ada di angan-anganmu.” Apollo membuang napasnya keras-keras, tahu betul kalau saja perkataannya bisa saja menyakiti Artemis. Tapi ia pikir masa lalu, ya masa lalu. Keadaan mereka sekarang rasanya lebih patut untuk di khawatirkan.

 

“Dia-membuang-kita.” Lanjutnya. Setiap kata diberi jeda dan setiap jeda itu pula seperti ada tamparan tak kasat mata di pipi si gadis. Apollo sudah terbiasa dengan itu, tapi sayangnya saudarinya belum.

Bukannya Apollo mau sengaja menyakiti hati sang adik, tapi lewat sepuluh tahun dan Artemis masih bertingkah seperti remaja belasan tahun. Ia kesal bagaimana Artemis, si gadis dengan kepala penuh logika (yang ia heran kenapa adiknya sama sekali tak pernah memakai logikanya untuk hal ini) masih sering terisak di balik pintu kamar saat tengah malam, saat ia kira Apollo sudah tidur padahal Artemis tak pernah tahu kalau Apollo kerap menderita insomnia akut. Kata orang, sih, menasihati dengan cara seperti ini akan lebih efektif.

 

“I―I just tired, App.”

 

“Aku belum bilang ‘kan kalau aku hampir meneguk larutan pembersih lantai?”

 

Sekejap manik Artemis membeliak. “Apollo, kau gila!”

 

Ya, Apollo segila itu.

 

“Mau lompat?” Lanjut si Kakak. Kepalanya digelengkan sedikit menunjuk kebawah, senyumnya terlihat meremehkan.

 

Tak ada yang tahu isi kepala Artemis ketika ia memutuskan menghela napas. Awalnya Apollo hanya bercanda tentang ini, sekadar mencairkan suasana karena ia pikir saat ini ia sedang berlakon dalam sebuah drama kehidupan. Berharap adiknya akan menjambak rambutnya atau lebih seru lagi meludah padanya―liar, tapi, yah, kadang mereka memang melakukan hal-hal ekstrem seperti saling meludah satu sama lain ketika berdebat. Sungguh, reaksi adiknya terlalu sayang untuk dilewatkan. Si kakak bahkan masih kegirangan saat adiknya bangkit, mungkin kesal atas pemikiran yang tak layak dicandakan terus keluar dari mulut kakaknya, lalu memilih menghabiskan sarapan yang sudah dingin.

 

Apollo manatahu kalau jantungnya tiba-tiba berdetak tak beritme, rautnya berubah kacau sekejap.

 

Ketika maniknya menemukan punya saudarinya, tiba-tiba pula Apollo Windley jadi jauh lebih takut mati ketimbang amukan Artemis.

 

“Lompat?―”

 

“―Ayo.”

 

Kali ini Apollo tahu, Artemis tidak sedang bercanda.

 

Ember logika si Gadis benar-benar sudah bocor.

A/N :

  1. Hiiiiiing mau sembunyi dulu
  2. Please someone help me out from this writer’s block condition 😦
Advertisements

3 Comments

  1. apollo artemis! terlepas dari settingnya aku sangat suka kembar yg berasal dari greek myth ini! ikatan mereka itu lho manis bgt XD tapi di sini jadinya agak gimana gitu ya… geblek apollo kalo bercanda mbok ya dipikir to mas.
    bagus asa! keep writing! dan maaf aku lagi WB juga soooo tidak bisa menyarankan apa2 T.T

  2. Liiiiii long time no see :’) iyah ini aku sengaja pake si kembar dari greek myth hahaha habis aku lagi suka sama greek myth dan pas banget aku lagi pingin buat cerita kembar gitu (alesan banget sebenernya aku gatau kudu namain siapa cast nya) bodong ya apollo mati buat becandaan :” iyanih li kita tos an dulu lah, aku lagi in wb’s state kaya yang mau nulis kudu dipikir keras, cape hahaha :” thanks udah mampir lianaaaaa mumumumu :*

  3. hai kak asaaa, long time no seee  first, aku mau bilang mohon maaf lahir batin yaa, kak. Padahal udah hampir sebulan juga lebarannya, tapi tak apa lah. Rasanya gak afdol aja kalau engga ngucapin haha

    WINDLEY bersaudara kok menggemaskan sekali. Anak kembar memang selalu aja bisa buat gegulingan. Btw, aku suka paragraf pembukanya, kak. Hidup memang bisa sekejam itu sampai bisa buat kita mikir minum cairan pembersih lantai /padahal kan lebih enak jus timun/. Ini lengkap dengan kehadiran artemis yang buat apollo makin imut di bayanganku. Hahaha. Namanya asik, deh kak. Apollo-artemis. Terus, endingnya. Wahh, ayo tepuk tangan meriah untuk windley bersaudara. Kusuka-kusuka ❤

    Keep writing yaa, kak. Aku juga engga bisa bantu apa-apa, selain kirim doa supaya webe cepat musnah /mungkin aku bisa kirim cinta juga HAHAHA/ syemangatt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s