Red Meets Blue

 

When green meets red and red meets blue, I wanna see all of you―Red Meets Blue, Matt Wertz

 

 

Seandainya hidup semudah menjalankan program mengetik pada personal computer, maka shortcut ctrl+c dan ctrl+v bisa dituding sebagai salah satu penyelamat hidup. Bukan apa-apa sih, hanya saja dengan begitu aku bisa mengopi isi otak shakespeare lalu menempelkan kopiannya pada otakku sehingga aku tidak perlu terjebak dalam balada tugas akhir seperti ini. Sedih rasanya ketika bahkan menambah satu kalimat pada pekerjaanmu saja terasa sesusah mendaki gunung Everest. Well, tentu saja itu perumpamaan, seumur-umur aku belum pernah mendakinya.

Bagi kebanyakan lelaki berumur duapuluhan sepertiku, gampang saja menjalani hidup―ha, naif sekali. Tapi nyatanya hidup tak hanya terbatas pada masalah tugas akhir. Maksudku seperti satu masalah bisa mengakar, seenaknya membuat cabang menjadi masalah-masalah baru―yang kadang sialnya bisa lebih buruk. Dan masalah kali ini, yang kurang lebih di sponsori oleh balada tugas akhir sehingga aku dengan terpaksa  menyambangi kedai terdekat kemudian memesan segelas kopi dingin untuk mencari inspirasi, ternyata malah mendatangkan masalah baru.

Bodohnya aku.

Salahku juga, sih, begitu saja melupakan bahwa berada di tempat ramai seperti ini kadang membuatku tak nyaman apalagi jika tengah menjadi sumber perhatian, menjadi subjek utama bagi sebagian karyawan kedai dalam memenuhi hasrat gunjing-menggunjing mereka. Seolah menilaiku lebih terdengar seru untuk dilakukan ketimbang menilai seorang pembawa acara yang salah menyebutkan nama pemenang Miss Universe tahun lalu.

Aku selalu diajari oleh ibuku tentang rasa syukur, tentu. Tapi pada saat seperti ini, asas ketidaksempurnaan yang selalu diberikan Tuhan pada setiap individu membuat rasa kesal kembali naik ke ubun-ubun.

Dari semua gen mongoloid yang ibu dan ayah berikan, dari semua kulit putih pucat sampai surai legam yang diturunkan oleh mereka, irisku sewarna biru terang. Tandai, biru-muda-terang. Bukan warna Obsidian tapi warna Aquamarine.

Menurutku perkara warna iris ini sudah ada pada ranah menyimpang mengingat dari apa yang aku tahu, kebanyakan orang Asia punya warna mata serupa hitam kecokelatan. Hal tersebut kadang membuatku merasa bahwa aku adalah anak pungut―skenario yang cukup menarik, tapi ayah dan ibu dengan dramatis selalu menolak anggapan tersebut sampai rela menggeledah isi lemari demi mendapatkan selembar akta kelahiran.

Pada tahap ini, ingin rasanya menjejalkan semua barang dalam koper dan memulai hidup baru. Dimanapun, asal warna iris tak menjadi masalah sosial yang cukup berarti sampai bisa digunakan sebagai ajang mengumpulkan masa. Huh, memangnya ini karnaval.

Merasa jengah, aku menandaskan kopi dinginku yang tinggal setengah. Menghela napas sebentar, hendak pergi dan melupakan kejadian ini dengan cepat ketika setumpuk buku mendarat pelan di atas mejaku. Buku-bukunya dibalut tas kain kumal, dengan bercak noda di sana-sini yang lantas membuatku mengurungkan niat untuk mengambil langkah, memilih opsi untuk sekadar melihat siapa pemilik tas-tas kanvas penuh noda ini.

“Yuta kan? Teman Zenji?” Cericipnya cepat dengan nada melengking naik satu oktaf, khas cewek. “Zenji tidak bisa datang. Katanya sakit perut. Tapi aku sih tidak percaya. Lalu dia menyuruh aku, sepupunya yang baik hati ini, untuk mengantarkan setumpuk buku ini padamu. Jadi, oke, kau bisa berterimakasih padaku, kudengar tumpukan buku ini penting buatmu.” Sejenak aku melihat kepalanya menggeleng-geleng, geliginya bergemeretak kasar. “Hei, halo, Tuan, kau dengar?”

Hening sejemang, pikiranku terasa kabur. Mataku masih terpancang pada wajah gadis ini. Bukan, bukan cara bicaranya yang kelewat cepat yang membuatku memandangnya lamat-lamat, atau poninya yang bergerak-gerak naik karena ditiup kesal.

Tapi matanya. Maksudku, irisnya merah. Satu yang sama sekali tidak pernah kau temui dalam kehidupan nyata.

Bukan marah, tidak dendam. Irisnya merah―secara harfiah. Membakar, menyala, memercik. Campuran ruby dan api. Yaampun, bahkan aku sampai lupa kalau aku meminta Zenji datang hari ini. “Ah, y―ya, aku Yuta.” Balasku sekenanya.

“Biar kuperjelas, ya. Kalau kau berpikir ini lensa kontak, kau salah besar.” Oke, agaknya ia sadar kalau mataku dengan kurang ajar masih memandang irisnya. Aku mengerjap liar, dengan gugup cepat-cepat kualihkan atensiku dari wajahnya sembari gelagapan mencari objek lain untuk dijadikan pemandangan baru. Cukup aneh, tapi entah kenapa rasanya seperti sedang ketahuan mencuri. Kupikir gadis ini bisa baca pikiran orang.

“Kenapa sih reaksi orang-orang selalu seperti ini. Dan halo, kau juga punya warna iris yang tidak kalah mencolok dari punyaku. Jadi tak usah berlebihan.”

Sedikit jungkitan alis sebagai respon kalimatnya barusan. Begitu sadar, acara perdebatan kecil ini sudah jadi bahan curi-curi pandang dari seluruh pengunjung kedai. Mendadak udara disesaki aura penasaran dengan intensitas tinggi. Mungkin heran melihat dua orang aneh―yang satu punya iris biru muda dan yang satu punya iris merah menyala―tengah mendebat perkara tak penting. Seolah hal ini merupakan hal paling tidak lazim yang pernah mereka temui dalam hidup.

Tapi kau tahu? Aku suka bagaimana bahan utama gunjing-menggunjing sebagian karyawan kedai hari ini berganti dari ‘aku’ menjadi ‘kami’. Mendadak perkara iris biru milikku ini menjadi hal paling biasa sehabis melihat bahwa ternyata ada orang yang punya warna iris lebih mengerikan dari punyaku. Dan beruntungnya, dia seorang gadis.

Mengerikan? Ralat, irisnya indah.

Kafe.

Kopi.

Gadis.

Klasik. Sebenarnya aku bukan penggemar―dan tak pernah kelewat percaya― tentang cerita-cerita roman macam itu. Tidak seperti kakak perempuanku yang berlaku setengah gila karena nama-nama seperti Josh atau Andrew. Tentang bagaimana kisah romantis dimulai dari pertemuan pertama di kafe ujung blok saat salju sedang turun dan berujung dengan lamaran sebulan kemudian. Setidaknya aku menjalani hidup dengan realistis dan hidupku cukup baik sejauh ini. Kepalang baik sampai, sampai gadis ini seenaknya saja datang sambil mencecar perkara setumpuk buku dan warna iris.

Mungkin ia bosan, merasa tidak dipedulikan karena aku tak kunjung mengeluarkan suara dari tadi. Ia balik badan dengan dengusan, hendak pergi ketika tangannya berhasil kucekal. “Tunggu, nona. Kenapa tidak duduk dulu sembari aku memesan tambahan secangkir kopi untukmu?” Ugh, untukku juga sih karena kopiku juga sudah habis. Peduli setan dengan tatapan mata mengintimidasi dari seluruh pengunjung kedai. Well, aku punya dia.

Sempat kulihat dahinya berkerut-kerut. Mungkin menimang tawaranku, sebelum lengan cantiknya menarik kursi lalu duduk dengan kaki dilipat. Jemarinya menepuk-nepuk tas beirisi tumpukan buku itu sambil meringis. “Ehm boleh, deh. Tapi kau yang harus bayar karena aku sudah capek-capek mengantar setumpuk buku ini untukmu.”

Yah benar, semua gadis selalu benar. Kalau saja aku bisa bertemu pemilik pernyataan itu―yang kemungkinan besar adalah lelaki―maka aku akan dengan senang hati mengajaknya minum secangkir kopi panas dan berkeluh kesah tentang betapa kerasnya hidup bagi seorang pria.

“Tentu.”

 

Oh, iya, namanya Kimi omong-omong. Dan tebak, aku dapat nomer ponselnya.

 

 

end

A/N:

Ancur. Absurd. Banget. Aku sadar kok. Maklum masih belajar. Terus yang heran sama covernya, tenaang aku bukan member sekte-sekte tertentuk kok hehehe

Advertisements

10 thoughts on “Red Meets Blue

  1. cie cie comeback2 pake orific yuhui
    aku jadi keingetan dulu pernah bikin tokoh orific pake lensa kontak merah hahaha. ih tapi apa ini setengah curhat, krn rasa keselnya dikepoin dan diomongin org itu kental bgt :p
    keep writing asa!

    1. lianaaaaa long time no seee iyanih aku rada butek bikin ff kebayang oppa terus kan gabaik jadi bapernya berlipat lipat hiks curhat tapi…..aku suka banget warna iris yang antimainstream gitu li soalnya keren aja hehehe you got me yah iya ini emang setengah curhat soalnya aku juga kadang rada insecure gitu agak paranoid sama judgement orang ahaha makasih lianaaa udah mampir :**

  2. ASAAAAA AKU SAMPE GUGLING WARNA MATA YANG AQUAMARINE TUH KAYA GIMANA HUHU CANTIK BANGET WARNANYAAAA😢😢😢 aduh aku suka suka suka suka ceritanya sampe lima juta kali dipangkat sekian heuheu. terus yang pas ketemu kimi tuh kenapa lucu banget aku gemash pengen nendang meja :’ keep writing asaaaa❤❤❤

    1. FIKAA MAAP BANGET BARU BALES KOMEN UDAH BERAPA LAMA INI YAADUH :” serius loh aku gatau ternyata emang ada iris warna akuamarin maksudku aku asosiasiin warnanya iris yuta sama warna batu akuamarin gitu fik syukur deh kalo ada beneran fiuh :’) aku mah masik belajar fikaa syukur deh kalo fika suka :’) makasih yaa udah mampir fikaaaa muah

  3. HALO KAK! :))
    pas banget baru aja mantengin timeline langsung ngeliat postingan ini. exactly aku langsung mampir ahahah ahahah
    ih dapat ide darimana bawa-bawa kesalahan penyebutan pemenang miss universe dijadiin analogi gitu xD otakku nggak kesampaian.
    oh iya, ketemu ini nih : (…) tapi ayah dan ibu dengan dramatis (…). ayah dan ibunya kata sapaan atau bukan? kalau aku salah tolong dikoreksi x”D

    kesimpulannya ya, ini ceritanya sejenis cinta pada pandangan pertama buat aku (eaa)

    1. haloooo makasih udah mampiiir, aak iya itu makasih banget udah di koreksi yaampun aku selalu deh teledor banget kalo masalah beginian kenapa ya :” klasik yah sebenernya cinta pandangan pertama tuh hahaha makasih yaaa udah mampir :*

  4. Hadehhh keren juga tuhhh, suka sama semua cerita yang di post. Bagusbagus dehhh. Ajari nulis cerita dong minn 😆😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s