Jepang Dan China

pict from tosmileinautumn

Jepang tentu senang mendapati China berdiri dibalik pintu flatnya setelah diketuk tiga kali dari luar. Ia kira tamunya pagi itu hanyalah salah satu pengantar tagihan koran. Maka Jepang tak harus merasa peduli kendati ia hanya memakai celana pendek dan kaus kebesaran, ditambah rambut cokelatnya yang lebih mirip sarang burung. Ya, tepat pukul tujuh pagi Jepang baru saja ―dengan sangat terpaksa― beralih dari tempat tidurnya, bahkan belum sempat menggosok gigi ketika helaian rambut panjang China terlihat berkilau terkena percikan mentari. Tiba-tiba, wajah Jepang sudah dihiasi rona merah saja ketika bibir China membentuk kurva manis sembari memamerkan oleh-oleh yang ia bawa.

Namun saat itu juga, di atas semua kesenangan yang membuncah pada sebagian tubuh Jepang, ada sekelumit perasaan asing menabrak pria itu seketika. Miris terangkum oleh sedikit getir. Bahkan setelah bertahun-tahun, ia masih bisa merasa malu terhadap China.

“Boleh masuk ‘kan?” Tanya China kemudian, yang langsung diasumsikan oleh Jepang hanya sebagai pertanyaan basa-basi mengingat kini sepatu hak tinggi sewarna jelaga itu sudah ditinggal pemiliknya. Dibiarkan tergeletak tak karuan di dekat kaki-kaki Jepang.

“Kamu sepertinya harus mempertimbangkan menyewa pembantu rumah tangga, deh.” Baru beberapa sekon China menandaskan koridor ia bercericip. Meletakkan dua gelas kopi panas dan beberapa potong begel diatas meja pantri. Satu kantung kertas yang ia genggam berisi pretzel berlumuran cokelat―Jepang kira gadis itu tak kan membagi apapun isi kantung itu pada Jepang (China penggila cokelat, sungguh). “Tahu tidak? Aku bukan menteri lingkungan atau apalah itu, tapi rumahmu benar-benar sudah menyalahi daftar syarat rumah layak tinggal, Bung.”

Jepang nyengir, hanya diam. Ayolah, seperti tak pernah masuk rumah lelaki lajang saja. Gerutunya dalam hati. Meskipun sedikit sebal, tapi Jepang rasa ia pantas menerima semua kalimat ‘tidak begitu menyenangkan’ yang keluar dari mulut China. Tak apa selama ia mengetahui bahwa China setidaknya masih peduli pada kehidupannya―walaupun ‘kehidupan’ disini hanya berarti seisi flat miliknya yang lebih mirip bungker tentara yang ditinggal begitu saja sehabis perang.

 

Begitulah bagaimana hal kecil bagi China bisa berarti begitu banyak bagi Jepang.

 

“Tama mana?” Manik China menjelajah seisi ruang tengah. Ekspresinya berubah ketika menemukan bola bulu sewarna abu pekat tengah berlarian kesana-kemari. ”Tama!” Pekiknya, langsung beringsut, tanpa mau peduli sedikitpun tentang Jepang yang masih berusaha mengambil beberapa kaus dan celana yang tercecer sepanjang ubin. Berlari, kemudian memeluk dengan gemas subjek berupa lusinan lemak dan bulu plus mata bulat sewarna cornflakes. Tabiat China ketika sudah berjumpa dengan Tama, harusnya Jepang bisa paham.

Seperti kopi dingin yang ditinggal karena bosan, merasa dirinya diacuhkan, Jepang kemudian melayangkan protes tak terima seperti : “Jadi kamu kesini hanya karena kucing, huh?” atau “Jadi kucing lebih penting daripada aku, huh?” Yang langsung di sambut gelegak tawa dari mulut China. Jemarinya masih belum berpaling dari perut gembul si subjek yang menjadi bahan omongan dari tadi.

“Tama merupakan salah satu dari banyak alasan, kamu intensi utamanya.” Strikes. China sebenarnya bukan orang yang kelewat romantis, juga bukan orang yang pintar berkata-kata manis. Setidaknya Jepang paling paham akan hal-hal tersebut. Jepang hanya sedikit kesal bagaimana kalimat-kalimat recehan seperti itu mampu membuatnya senang bukan main. Kalau dianalogikan rasanya hampir sama seperti mendapat surat cinta rahasia dalam loker saat jam pulang sekolah. Dan gelenyar-gelenyar seperti ini tak bisa ia dapatkan dari sembarang perempuan. Hanya dari China, pada sepanjang Jepang menjalani hidup.

“Ayolah, Tama hanya seekor kucing. Kamu kebanyakan protes, deh.” Lanjut China, beralih dari Tama yang merengek ingin dilepas. China mengalihkan atensinya pada kubus hitam yang tergeletak mengenaskan di dekat meja makan, menyalakan televisi dan melesakkan pantat dengan kaki menekuk diatas sofa, membuat dirinya senyaman mungkin di tengah tumpukan plastik makanan kecil dan remah-remah biskuit―flat Jepang memang separah itu dan China memilih untuk tak merasa terganggu. Menyortir saluran sebentar sebelum menjatuhkan pilihan pada serial CSI. Ingatkan kalau China merupakan penggemar fanatik serial kriminal.

 

“Dasar gombal.” Manik Jepang memutar kesal, tapi bibirnya tak bisa berbohong. Ada senyuman yang terlihat sangat menggelikan tercetak di sana. “Mau berondong jagung?”

 

China menggeleng.

 

Pocky? Oh, tunggu aku sudah memakannya habis kemarin.”

 

Lagi-lagi hanya gelengan yang Jepang dapat.

 

“Keripik kenta―huh.”  Menyerah, Jepang ikut melesakkan pantatnya di samping China. Memilih spasi sedekat mungkin dengan Si Gadis agar bahu mereka bisa bersentuhan. Maniknya teralih pada China, melihat si Gadis masih terpancang dengan si tampan Horatio padahal rambut putih sudah memenuhi kepalanya―well, China masih mengakui ketampanannya.

Mantel China beraroma seperti citrus. Sedikit polesan lipstick di bibir dan seulas likuid hitam di kedua lipatan mata. China masih terlihat mengagumkan bahkan setelah apapun yang Jepang perbuat terhadapnya.

Memutar masa lalu tak semenyenangkan kedengarannya bagi Jepang. Apalagi masa lalu yang ada hubungannya dengan China. Memorinya yang melibatkan China sebagian besar hanya diisi dengan kejadian-kejadian yang masuk dalam ranah ‘tidak menyenangkan untuk diingat dan dikenang’.

Namun kapan lagi waktu yang bisa digunakan Jepang untuk meminta maaf kalau tidak sekarang. Ia bahkan tak tahu China mau mengunjungi flat miliknya lagi atau tidak setelah pengalaman buruk tentang sofa yang penuh remah-remah dan sisa biskuit.

Dengan agak ragu, Jepang meletakkan kepala pada bahu China. Tanpa persetujuan Si Gadis, tak mau repot-repot tahu Si Gadis senang atau tidak bahunya disandari seperti itu. Menghirup sebanyak-banyaknya aroma jeruk yang menguar dari mantel China. “Maaf, yah.”

 

“Sudah kubilang berapa kali untuk tak mengucapkan kata-kata melankolis macam itu. Kau seperti aktor melodrama picisan, tahu tidak.” Tandas China tanpa melepas mata dari televisi.

 

Hening memberi jarak, Jepang bernapas pelan. “Setidaknya biarkan aku terus mengucapkannya sampai diriku sendiri merasa lebih baik.”

 

“Ha, pria egois.”

 

“Yeah, that’s exactly me, China.”

 

 

China bergeming. Berbagi pikiran dengan Jepang, enggan mengubah posisi satu sama lain. Jepang bergerak pelan, mencari posisi ternyaman pada bahu China―menyembunyikan sebagian wajah yang dihinggapi rasa malu tanpa ampun, mengatupkan kedua rahang kuat-kuat.

Sampai saat ini, masih sama dengan apa yang ditemui Jepang kali pertama bertatap, sikap China masih selembut buih kopinya pagi tadi. Bahkan setelah diporak- porandakan dengan begitu hebat oleh Jepang.

 

 

Mau pretzel cokelatku?

 

end

A/N:

Haloo ada yang kangen aku? nggak? okedeh aku gapapa kok. Udah berapa abad laman ini aku tinggalin ngga tau deh mungkin sekarang udah banyak sarang laba-labanya. Ngerasa nggak produktif banget terus nggak ada ide yang ngalir jadi nggak tau mau nulis apaan juga hiks. Terus pernah nggak sih kalian udah nulis terus malu mau publish soalnya ngerasa tulisan kalian jelek abis? kaya ga pede soalnya tulisan writer lain pada kece terus tulisan kita kaya ‘paan nih’ gitu. aku ngerasain itu akhir-akhir ini, iri banget sama writer lain yang tulisannya pada bagus hehe. Rasanya pengen memperbaiki tulisan aja soalnya ngerasa tulisan kemaren tuh sampah banget, jadi kalo misal ada masukan masukan tolong bagi ke aku juga yah hehe.

Terus…ini bukan hetalia…bahkan aku belom nonton hetalia itu kaya apa. Nama tokohnya emang pure China si cewe sama Jepang si cowo. Tapi feeling nya aku ambil dari konflik china dan jepang pas WWII. Gatau kenapa WWII tuh selalu bisa jadi topik nyenengin buat di tulis hehe. So enjoy!

Advertisements

6 Comments

  1. ASAAAAAAA OMG WHERE HAVE YOU BEEN SAAA! SUMPAH AKU SENENG NGERELOAD WP TERUS ADA POSTINGAN KAMUUUUU (sek matiin kepslok dulu.) and you asked if we (I) missed you? of course bruuuuuh! heuuu kangen sumpah baca tulisan asa. asa abisnya kayak MIA gitu tiba-tiba ilang dan ngga pernah update lagi 😦 sebenernya gatel mau nanya-nanya di twitter but aku tau pasti asa sibuk :”””

    CSI! CHINA KITA SAMAAN DOOONG HAHAHA TOSSSS!! aku suka deh sa. tulisan kamu ngga kaya yang udah lama ngga nulis kok. ngalir banget malaah. suka feeling yang WWII-nya terutama hehehe. china-nya manis banget astagaaaah aku sukaaa, terus si jepang tipikal cowo yang susah maafin diri sendiri :””” kalimat sama pemiliham katanya aku sukaaaaa. ah reseup pokoknya bacanya hehehehe. btw iyaaa aku kira hetaliaaa eh taunya bukan xD asa kapan kapan ngefanfic anime dari studio ghibli dong (ini reader resek banget asli hahahaa) xD

    anw aku pernah kok sa, ngerasa kayak gitu. kayak yang: ah ini tulisan gue apaan sih. ngga pantes banget dibaca ah udah sekip. akhirnya nggak dipost :” aku sering ngerasa insecure juga kok saaa huhu :” you’re not alone, really. sok atuh asa mau dikomen apanya lagiiii. ehe masih seneng sumpah nemuin apdetan kamu :3

    yosh! ini keanya kepanjangan ahahaa. asa keep writing yaaah. semangaaaaat!

  2. FIKA YAALLAH AKU SUENENG BUANGET ADA KAMU PADAHAL AKU UDAH YANG KAYA ‘PASTI GAADA YANG BACA NIH’ HAHAHAHA udah lama ga ilang soalnya :” AKU JUGA KANGEN BACA TULISAN KAMU FIKAAA BESOK AKU MAMPIR YAH hiks sebenernya ga terlalu sibuk juga tapi cuma kaya gaada motivasi buat nulis haahaha apaan

    wakaka pasti banyak yang ngira ini hetalia deh wkwk tau banget deh kalo fika pasti nontonnya yang macem macem csi gini :’) eh fik serius aku pernah kepikiran buat ff nya haku sama sen nya spirited away habis kesel banget baper mereka gaada kelanjutannya hahaha tapi belom terealisasi ini pasti ntar yang ribut cuma kita bedua doang hahha

    nahini aku baperan banget sih ya suka galau kalo liat writer laen (termasuk fika) pada bagus bagus gitu tulisannya :’) THANKS A LOT FIKA UDAH BACA fika juga semangat yaaah :**

  3. KAK ASAAAAAAAAA, YAAMPUN INI KAK ASAAA YANG AKU KENAL YHA KANN, KAK ASA BALIK SAUDARA-SAUDARA. KAK ASAAAA, AKU SUMPAH KANGEN BANGET SAMA TULISAN KAKAK. SERIUSAN. hahahahaha, welcome back, kak 🙂

    aku suka-aku suka ini. mungkin pengaruh aku kangen kakak juga kali yaa terus aku baru baca fluff macam ini sebelum mandarat dengan mulus di sleeping panda. aku bacanya nyaman, kak. kaya ngalir gitu aja. belum lagi pemilihan diksinya, kak. /aku masih payah bagain diksi, kak/ hehe
    terus terus aku suka china yang manis malu-malu gitu, belum si jepang yang bisa nenangin hati cewe sekali. aduhh pria tipe idaman sekali yaa, kak. konversasi yang singkat gini malah kadang bisa lebih ngena daripada kita buat fic oneshot lho, kak. pokoknya aku sukaaaa ❤

    terus ada sedikit typo atuh, kak. di bagian
    mengaggumkan, kedegarannya, terus di kalimat Dengan agak ragu, Jepang meletakkan kepa pada bahu China.
    semangat terus yaaa kak asaa, ayo-ayo balik nulis lagi. aku juga malah lebih sering gitu atuh, kak. ngerasa aku nulis apaan sih,malu sama tulisan sendiri kalau ngebandingin sama tulisan-tulisan yang beredar sekarang di wp ((dan bagus-bagus semua, kak)) tapi kembali lagi kadang sayang kalau tulisan jadinya malah berakhir di draft. walaupun jarang merasa puas sama tulisan sendiri, kitanya jadi belajar, kak. ^^ kak asa yang udah punya reader tetap ayo semangat terus nulisnyaa, kak. banyak yang nunggu kakak buat balik 🙂

    aku tunggu tulisan kak asa yang lain yaaaa, semangat selalu, kak asa.
    keep writing, kak ❤ ❤ ❤

    1. iya vanaa ini aku :’) iiiih apaan sih vana sepanjang ff ff kamu yang aku baca diksinya mah cakep kalo masalah diksi mah aku juga paling payah sampe sedih kayanya diksi tuh masalah kebanyakan writer yah wkwk malah aku cuma bisa bikin yang pendek pendek gini van coba deh kalo bikin panjang gitu pasti ide dan feelnya ambyar kececeran :’)

      iyaaa typo nya makasih banget udah diingetin :* iyanih ngerasa baper aja maaf yah jadi ngikut baper hehe habis kayanya writer writer sekarang tuh tulisannya a whole new level berasa aku debu di keset, iiiih kan tulisan vana bagus padahal wkwkw makasih yah vana udah mampir dan baca 🙂 semangat juga buat vanaaa :*

  4. Halo, Kak Asa, aku ami, salam kenal yaa. Rasa-rasanya aku belum pernah komen di sini (mudah-mudahan aku nggak salah).
    Pas baca judulnya, aku jadi keinget Hetalia, eh ternyata memang murni fiksi orisinil. Aku menikmati ceritanya, dan pas baca A/N, aku keinget tragedi di Cina saat diduduki Jepang. Pemilihan Cina sebagai tokoh wanita, entah kenapa, aku suka sekali karena bisa dikaitkan dengan wanita-wanita yang menjadi korban dahulunya.

    Mudah-mudahan hubungan keduanya semakin baik :). Keep writing, Kak 🙂

  5. halo halo amii makasih udah main kesinii, hehehehehehehe aku juga lupa nih udah seabad ga ngecek wp kalopun udah pernah kita kenalan lagi ajayah hehe aku asa 🙂 iyaa kan ya aku udah duga pasti banyak yang ngira ini ff hetalia :’) iya itu ehm aku lagi freak banget sama tema WWII soalnya, jadi feelingnya emang diambil pas itu 🙂

    once again makasih amii udah main 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s