Of Headache and Early Morning Conversation

tumblr_nlvnc1AMCD1riav2to1_500

Konversasi pagi buta dan sakit kepala tak pernah seburuk yang Jongin pikirkan

.

.

 

 

Wanna some coffee?

Seingatnya rabu pagi tak pernah semenegangkan ini seumur hidup pria duapuluh tahunan bernama Kim Jongin itu. Matahari masih belum naik, menampakkan langit dengan gradasi warna ungu dan beberapa bintang yang masih belum menghilang. Mungkin jika Jongin bisa menjadi orang lain, Ia lebih ingin menikmatinya di beranda apartemen dengan secangkir kopi yang baru diseduh.

Yah, tapi itu orang lain dan sialnya, dia adalah Jongin.

Menyesap aroma pagi bercampur sedikit asap buangan bahan bakar sudah menjadi kegiatan rutin kim Jongin sejak enam bulan belakangan. Lelaki itu sempat terbatuk keras setelah menghirup dalam udara dengan tambahan polusi di sekitarnya, mengisi paru-parunya yang seakan hampir kosong. Suara sirine polisi masih memenuhi telinganya sejak beberapa jam lalu.

Ia telah diingatkan berulang kali tentang pekerjaan seorang anggota polisi dan mau tak mau ia harus menerima segala risiko, that’s his own choice, termasuk turun langsung dalam penyergapan pagi buta. Oh, ia sungguh membenci kegiatan yang satu ini. Satu-satunya yang ia ingat setelah penyergapan tadi adalah dirinya yang terkapar mengenaskan di pinggiran terotoar dengan muka sangat berantakan. Bahkan ia tak sempat keramas pagi ini setelah atasanya dengan tega meyeret pria itu masuk kedalam van kepolisian.

Jongin masih memijat pelipis saat bunyi sol sepatu hak tinggi begitu saja berhenti, menampilkan sesosok wanita berambut hitam sebahu dengan jas putih laboratorium yang agak kebesaran. Membuat bayangan wanita itu terpantul apik di kedua bola mata kehitaman milik Jongin. Satu tangannya memegang papercup berisi cairan hitam kental dengan asap yang masih mengepul, menawarkan benda yang baru saja ia beli dengan sisa uang receh di dompetnya kepada Jongin dan ―mungkin setengah berharap bisa membuat wajah kacau pria itu sedikit membaik.

Lelaki itu agak ragu pada awalnya namun menerima begitu saja cup kopi dari tangan wanita itu dengan hembusan napas keras. Ia yakin butuh segelas kopi sejak satu jam lalu namun tubuhnya benar-benar sudah lelah untuk sekedar menyatroni minimarket duapuluh empat jam terdekat.

“Thanks.” Jawabnya singkat.

“Boleh aku duduk?”

Hening beberapa saat ketika Jean menyelesaikan kalimatnya.

“Boleh aku duduk?” Ulang wanita itu.

“S-sure,” Jawab pria itu pendek. Kekehannya dengan cepat menghilang bersama udara pagi, menggantinya dengan sebuah senyum timpang. “Seingatku kau tak pernah terlalu meluangkan waktumu untuk sekedar menyapa atau duduk disampingku.”

Well, mungkin itu untuk enam bulan kebelakang. Lihatlah wajahmu begitu kacau tuan, siapa yang tak akan prihatin?”

Jean, wanita itu memang tak pernah terlalu peduli dengan hal-hal di sekitarnya. Contohnya jas laboratorium kebesaran yang sedang ia kenakan atau pria bernama Kim Jongin. Ia cantik Jongin akui, namun wanita ini sedingin balok es. Tipikal yang jarang tersenyum dan terlalu serius (well, ini menurut Jongin). Baru enam bulan lalu ia bergabung dalam kepolisian Seoul sebagai ahli forensik dalam tim Jongin dan pria itu sama sekali tak mengamini hal tersebut. Entah memang kepribadiannya atau mayat-mayat yang selama ini ia tangani yang membuatnya mempunyai kepribadian sedingin kutub utara.

Bilang saja mereka tak pernah cocok, Jongin yang notabene kolot dan Jean yang dingin. Sudahlah, tak ada harapan untuk kasus yang bisa terselesaikan dengan mudah dan cepat dalam tim mereka. Tidak ada hari tanpa adu mulut keduanya dan dua orang paling muda yang baru bergabung itu berhasil membuat seisi kepolisian Seoul benar-benar kewalahan.

Jadi jangan salahkan Jongin kalau ia hanya bisa tersenyum timpang melihat wanita itu menyapanya duluan.

“Aku ingat punya beberapa butir aspirin, mau aku ambilkan ?”

“No, thanks,” Kopi di pagi hari saat perutmu bahkan belum diisi apa-apa sejak semalam merupakan kombinasi yang cukup buruk apalagi ditambah satu butir aspirin, oh bahkan Jongin tak akan sempat memikirkan efeknya. “Atau kau memang sengaja ingin membuatku mabuk ditengah-tengah tugas.”

“Oh sorry, forgot that one. I didn’t mean it, really.”

 

“Kukira kau bukan tipikal orang yang pelupa, atau kau memang berniat membunuhku. Yaampun aku tahu kau tidak suka padaku tapi intensi membunuhku sudah keterlaluan, nona.” Pria itu mendengus ditengah kepalanya yang berdenyut.

“Kim Jongin, aku ingatkan aku tak suka perdebatan di pagi buta jadi jangan memulai, oke? Sebaiknya cepat habiskan kopimu atau aku ambil kembali.”

“Baik, baik nona galak.”

Hal pertama yang Jongin lakukan setelah satu sesapan cairan hitamnya adalah melamun. Kerlap-kerlip sirine polisi masih menjadi pemandangan satu-satunya bagi pria itu. Maniknya masih memperhatikan Byun Baekhyun, detektif divisi kriminal kepolisian Seoul―rekan kerjanya yang dengan setengah hiperaktif bergelut dengan beberapa opsir. Jongin bahkan sudah tak mengingat bagaimana runtutan pernyergapan pagi tadi berlangsung. Yang ia tahu ia sudah terkapar di pinggiran trotoar dengan wajah kurang tidur. Bergelut dengan divisi kriminal tak pernah semenyenangkan yang ia pikirkan dan ia yakin kalau divisi kriminal merupakan yang terburuk setelah berakhirnya penyergapan pagi tadi.

Matanya menerawang, ada bekas kebiruan di lengan dan kaki kirinya, tak begitu sakit namun jelas ia tak akan mau menganggu dirinya untuk mengingat kenapa bekas kebiruan itu ada disana. Mencoba memikirkannya saja sudah membuat perutnya mual. Ditambah dengan sakit kepala dan wanita  disampingnya yang sekarang tengah sibuk dengan sepatu hak tinggi miliknya, paginya tak akan pernah seburuk ini.

“Feels better ?” Suara Jean memecah lamunan Jongin yang langsung ditanggap dengan gelengan pelan oleh Jongin. Ia hanya tak yakin jika dirinya baik-baik saja. “Turut berduka cita untuk ayahmu, sungguh.”

Matahari sudah cukup naik ketika gurat-gurat sedih kembali tercetak di wajah pria itu. Kalimat pendek yang baru dilontarkan Jean membuatnya mau tak mau kembali kepada ingatan-ingatan tentang ayahnya. Berputar bak film pendek di kepalanya.

“Kau bisa cerita apapun padaku, itupun kalau kau ingin, sih.”

Ada sedikit kekekah dari Jongin setelah mendengar kalimat Jean yang tiba-tiba melunak, dahinya kembali berkerut seolah Jean merupakan entitas luar angkasa yang entah bagaimana bisa duduk di sebelah Jongin sepagian ini. Wanita ini susah ditebak, terkadang galak, terkadang manis. Yah, walaupun sifat manis nya selalu ia tunjukan pada atasannya dan tak pernah sekalipun pada Jongin.

Ia akui beberapa hari ini seperti mimpi buruk baginya. Ayahnya baru saja meninggal, dua minggu lalu kalau Jongin tak salah hitung. Oh, bukannya Jongin tak peduli atau apapun, ia bahkan tak sempat mengingat apa makanan terakhir yang masuk dalam perutnya. Bilang saja hari-harinya selama dua minggu ini terlalu kacau. Ia harus menyelesaikan kasus ayahnya dalam keadaan setengah syok.

Mungkin Jean benar, ia hanya butuh seseorang untuk berbagi cerita. Tapi hei, dia Jean, bukan wanita cantik tetangga sebelah apartemen yang setiap pagi menyapanya dengan senyum ramah. Harga diri Jongin terlampau tinggi untuk bahkan sekadar membagi cerita dengan wanita ini.

“Ya sudah kalau tak mau ceri―”

“Dari awal ayahku tak pernah mengizinkanku untuk masuk sekolah kepolisian. Tidak sampai dua minggu lalu aku menemukannya telah meninggal,” Jongin menyela kalimat Jean sembari tertawa renyah. Makhluk mana yang masih bisa tertawa pada saat seperti ini ? Jongin salah satunya. Dan oke, Jongin benci mengakuinya tapi mungkin untuk saat ini harga dirinya bisa mengalah sejenak. “Entahlah, Ia membenci setengah mati pekerjaan polisi.”

“Biar kutebak, bukan kau jika tak membantah perkataan ayahmu.”  Dengan agak tidak sopan gadis itu menyela, tapi yah dia benar.

Yeah, dan itu selalu membuatku buruk dimatanya. Seandainya saat itu aku sempat mengatakan jika aku menyayanginya,” Pria itu menghela napas pelan. “I haven’t told a proper goodbye to him.”

“Bukan salahmu.”

Yeah, I know.”

 

“Aku yakin kau tak pernah terlihat buruk dimatanya, Kim Jongin. Ia hanya terlalu menyayangimu kupikir. Kau tahu kan bagaimana rasanya bekerja di kepolisian.” Jean menyelesaikan sesapan terakhir kopinya yang tak lagi panas lalu menyentuh pundak Jongin lembut. “Tapi setidaknya kau barusaja menangkap pelaku pembunuhan ayahmu. Kau hebat tadi, Baekhyun cerita padaku dengan mulut berbusa. Pantas saja kau bersikeras ingin menangani kasus ini.”

Tak seperti biasanya, kopi pagi ini terasa begitu pahit di lidahnya. Dan tak seperti biasanya, ia menghabiskan sisa pagi ini dengan duduk berdampingan bersama Jean, satu-satunya wanita yang selama ini setengah mati ia hindari. Berbagi cerita yang bahkan Byun Baekhyun, teman paling dekatnya pun tak pernah tahu. Lucu pikirnya. Ia sempat meragukan dirinya yang dengan gila membagi cerita dengan Jean. Ia tak tahu, tapi sifat Jean begitu lembut padanya pagi ini (Jongin tambahkan, ia juga mendapat usapan lembut di pundak), mulutnya hanya tak bisa berhenti bercerita.

Thanks to you Jean, tim forensik banyak sekali membantu. Dan terimakasih kopinya, itu juga membantu.” Ia terkikik.

“Hei Jongin!” Itu lambaian kelima Baekhyun padanya, menyuruhnya dengan tak sabar untuk kembali ke mobil patroli. “Aku tak tahu alasan kenapa kau membenciku, tapi mengobrol denganmu tak seburuk yang aku kira. Aku akan sangat senang jika kita bisa mengobrol lagi lain kali jika senggang.”

“Jongin!” Panggil Jean. Pria itu menghentikan langkahnya, sedikit tidak menghiraukan ocehan Baekhyun yang lebih mirip burung beo menunggunya memasuki mobil van kepolisian. Jongin membalikkan badan sebentar, mendapati senyum Jean yang masih terhias di bibirnya. Ia mematung dua detik, Jongin sempat menghitung. Ya Tuhan kemana saja Jongin selama ini sehinga ia baru tahu kalau Jean punya senyum semanis itu.

“Y−ya?”

“Happy birthday, jangan tanya kenapa aku bisa tahu hari ulang tahunmu,” Jongin, dengan rambut berantakan, muka kusut dan janggut yang masih belum tercukur rapi masih mematung di depan Jean. Matanya berkedip dalam rentang waktu beberapa sekon sebelum Jean melanjutkan kata-kata yang sengaja ia putus.

“Dan hei, siapa yang bilang jika aku membencimu?

The easiest part of life is finding someone you love,

 and damn, it really works to Kim Jongin.

.

―End

Ya pokonya jangan pada bingung aja padahal jongin ga ulang taun hari ini kok diucapin selamat ulang tahun ya pokonya happy birthday aja to jongin, ini sebenernya nulis nya udah lama binggo tapi baru ke post sekaran :’)

Advertisements

7 Comments

  1. pekerjaan jongin berat bgt ya sampe” hidup dia udh kacau kaya gt, mngkn karna menangani kasus ayahnya yg bkn dia kerja keras bgt sampe menguras waktu, tenaga dan tubuhnya, jd waktu 2 minggu itu berasa kerja berbulan” hihi
    aku ska interaksi antara jongin dan jean, simple tp ya….menarik diliat dari karakter mereka msing”. dan itu interaksi yg pertama stlah 6 bulan mereka kerja bareng kan? omaygat -_-
    aku reader baru tp udh komen panjang” gini ya tuhan -_- maap ya ka hihi

  2. Asaaaa, ihhh lama bngt ih g bka wp dam g mmpir ke blog asa. Sekalinya mampir. Oalaaaaa hahaha. Itu jongin mengenaskan amat sih hidupnya hahahaaa :p

  3. hello, aku pendatang baru. dpt link blog km dr blog evin.

    woah Jongin kelihatan sbgai pria pekerja keras, yah tuntutan profesi.

    ada beberapa typo tp ga masalah, tetep keren!
    😀

  4. wah, nama aku dipake nih disini/?
    hehe, aku sebenarnya readers lama cuma gak pernah berani komen kak huhu maafkeun ;-; o iya belum memperkenalkan diri aku jean, 01 L. kk 93L ya? heheh
    uwoh si jongin keliatan ngenes amat ya disini, tapi dia tetep kerja keras.. ideal type abis dah/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s