Of Phone Call, Morning Shock and Kim Jinwoo

tumblr_n78izqy7br1rspno7o1_500

Song Minho : Wanted, Life Or Die.

 

*

 

Kim Jinwoo, pria berumur dua puluh tiga tahun itu sedikit mengerjapkan mata ketika tersadar ia sedang berada dalam mobil van tua dengan sebuah Rifles hitam mengilat di pangkuannya. Selongsong pelurunya kosong dan ia tak terlalu penasaran tentang pertanyaan mengapa tak ada satupun peluru yang mengisi senjata itu.

Dilihatnya kearah kanan dengan pandangan kosong. Maniknya menemukan seorang pria lain dengan jaket kebesaran yang tengah menyetir melewati jalanan utama kota Seoul dengan membabi buta. Song Minho, dua puluh satu tahun, memegang kemudi dengan agak gila dan meninggalkan bunyi klakson pengemudi lain yang marah.

Butuh waktu empat puluh delapan detik penuh bagi otaknya untuk menyadari apa yang sedang terjadi dan satu menit penuh untuk mengingat kenapa senjata api itu bisa ada di pangkuannya.

“Aku pikir aku sudah gila, Minho-ya.” Jinwoo bergumam ditengah raungan suara mesin van yang mereka tumpangi dan suara sirine polisi mengisi setelahnya. Ketika itu tubuhnya merespon, tangannya mulai berkeringat dan kakinya bergerak tak karuan. Setahunya terlibat dengan polisi selalu tak pernah menyenangkan.

Ia ingat pernah satu kali berurusan dengan polisi ketika ia tak sengaja memecahkan kaca depan mobil pemilik flat tempatnya tinggal. Sungguh ia hanya ingin membuang tumpukan sampah di kamar flatnya, namun ia tak akan tahu jika ia menyenggol pot hingga terjatuh tepat di kaca depan mobil dan pemilik flatnya tak terlalu peduli jika Jinwoo sampai berurusan dengan polisi.

Baginya cukup sekali saja berurusan dengan polisi dan ia tak pernah ingin lagi. Namun sial sepertinya ia akan masuk ke kantor polisi lagi dengan kasus yang lebih parah.

Satu-satunya yang harus disalahkan adalah pria di jok kemudi itu.

Satu siang yang panas dua bulan yang lalu ketika Jinwoo bertemu kembali dengan Minho, juniornya di sekolah menengah atas. Entahlah pertemuan itu merupakan suatu keberuntungan atau malah sesuatu yang sama sekali tidak di harapkan bagi tipikal pria pengangguran seperti Kim Jinwoo. Ia butuh uang dengan cepat dan Minho begitu saja datang menawarkan pekerjaan, ia bak malaikat bagi Jinwoo yang malang waktu itu. Maka disinilah ia sekarang, dalam mobil pengap dengan sekitar tiga koper berisi penuh lembaran won teronggok begitu saja di jok belakang.

Jinwoo mendapat uang dengan cepat seperti yang dijanjikan Minho tempo hari, namun jika ia bisa mengembalikan waktu, ia lebih memilih untuk tidak terlibat dengan pria ini. Kepalanya masih dipaksa mengingat kejadian beberapa jam lalu sebelum ia berakhir dengan seonggok Rifles dalam pangkuannya. Merampok bank sama sekali bukan pilihan pekerjaan yang akan ia pilih ketika bahkan ia tidak tahu bagaimana cara melepaskan peluru dari senjatanya.

“Apakah kita akan berakhir di sel kalau tertangkap?” Tubuhnya masih gemetar ketika sirine mobil polisi meraung di belakang mereka, dan kenyataan bahwa pria bernama Song Minho itu hampir saja menabrak truk pengangkut bahan bakar yang datang berlawanan arah membuatnya ingin muntah.

Runtutan kejadian perampokan bank tadi masih berputar-putar di otaknya bak film pendek. Ia berhasil mengingat sebagian sebelum ia duduk dengan wajah kosong dalam lempengan van hitam milik Minho. Seperti wajah-wajah pegawai bank tak bersalah yang ia paksa untuk mengosongkan brankas bank dan hei, ia mengingat tak sengaja melubangi atap dengan senjata di pangkuannya.

Ya Tuhan, ampuni apa saja yang barusan ia lakukan.

Oh, comeon Hyung, siapa bilang kita akan tertangkap ketika Song Minho ada di balik kemudi ? Tak akan pernah sampai dunia berakhir sekalipun.”

Ekor mata Jinwoo melirik kearah Minho sebentar, enggan mengalihkan matanya dari kaca depan mobil, berjaga-jaga untuk berteriak kalau-kalau Minho hampir menabrak sesuatu lagi.“Better keep your words, Song Minho. I beg you.”

“Calm down.” Satu kalimat kemudian dengan brutal Minho menginjak pedal gas, membuat van mereka meliuk-meliuk diantara padatnya jalanan kota Seoul di hari senin. Minho masih terlihat tenang ketika bahkan Jinwoo sudah hampir tak bisa bernapas. Ia telah bertemu pria yang salah, sungguh.

Yang ia dengar sebelum helaan napasnya sendiri adalah suara sirine polisi yang kini tak lagi memekakkan, kerlap-kerlipnya sudah tak terlihat di balik padatnya kendaraan-kendaraan pribadi. Mereka lolos dari kejaran polisi setidaknya untuk saat ini. Bersyukurlah Kim Jinwoo, Tuhan masih sayang padanya.

“Cukup bagus untuk pekerjaan pertamamu, Hyung.” Jinwoo masih mengaduk sisa serealnya sembari memandang kosong tumpukan koper yang barusaja Minho letakkan di atas sofa. Entahlah, antara senang dan menyesal. “Kita makan daging besok!” pekik Minho setengah hiperaktif dengan game console miliknya.

Jinwoo tak lagi bernafsu dengan semangkuk sereal kudapan sorenya sejak beberapa menit lalu. Pria ini membuatnya gila. Bagaimana ia bisa sesantai ini ketika siang tadi mereka barusaja bermain kejar-kejaran dengan polisi ?

“Seharusnya aku tak melakukan ini dari awal Minho-ya. Aku hampir hampir mengeluarkan sisa makan pagiku saat kau menyetir,” Jinwoo sedikit menjauhkan mangkuknya, tak mau lagi memakan benda-benda lembek yang sedari tadi ia aduk. “Kau tahu kan aku punya kenangan buruk dengan polisi?”

I’d prefer to vomit rather than being interrogated by cops.”

Sebenarnya Jinwoo bisa memilih pekerjaan yang sedikit lebih mudah dan aman seperti guru les misalnya atau ia bisa menjadi pegawai di sebuah kafe. Tapi dengan keadaan keuangannya yang sangat mengenaskan ia tak mungkin ia menolak tawaran Minho untuk menjadi rekan kerja. Selama ia tak menghilangkan nyawa seseorang, mungkin tak apa pikirnya kala itu. Tapi tak ia kira kalau menjadi rekan kerja Minho bisa menjadi begini mengerikan.

“Lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini?”

“Bersenang-senang?”

“Polisi akan menemukan kita.”

“Tidak akan selama ada aku, tenanglah Hyung.” Ujar Minho santai, matanya masih terpaku pada layar televisi, memainkan game bodoh dengan karakter yang hanya berlarian kesana-kemari.

Jinwoo sudah terlanjur ada di dalam permainannya jadi yang bisa ia lakukan adalah mempercayai pria bernama Song Minho itu. Dalam rentang waktu beberapa minggu mungkin ia bisa membawa satu koper uang, pergi ke luar negeri, mengubah identitas dan hidup bahagia disana. Membuka sebuah restoran kedengarannya cukup menyenangkan.

Semua akan begitu mudah untuk saat ini bagi Kim Jinwoo. Yeah, begitu mudah.

Hal pertama yang dilakukan Jinwoo pagi ini adalah mencari sebutir penghilang nyeri untuk menghilangkan pening yang menderanya ketika ia bangun dan mual di perutnya membuat paginya bertambah buruk.

Salahkan Minho, mereka minum terlalu banyak tadi malam. Pemilik kedai minum itu tak pernah tahu jika barusaja ada dua orang buronan menghabiskan setengah malam di kedai miliknya dan membayar makanan mereka dengan uang hasil rampokan.

“Minho-ya, kau tahu dimana terakhir aku menyimpan obat penghilang nyeri?” pekik Jinwoo diantara kegiatannya menggeledah laci kamar.

“Song Minho?” Itu panggilan ketiga untuk Minho ketika ia sadar ada yang tidak beres. Ia membuka pintu kamar Minho dan tak menemukan siapapun di sana. Hanya kasur yang sudah tertata rapi dan jendela dengan tirai yang telah terbuka, membiarkan sinar matahari masuk melalui celah-celah. “Ck, sejak kapan ia membersihkan kamar?” Gumam Jinwoo pelan.

Minho tidak ada itu berarti mungin pria itu tengah membeli cadangan makanan untuk beberapa minggu kedepan atau mungkin hanya berjalan-jalan sebentar melihat garasi yang sebelumnya diisi van hitam miliknya kini kosong. Jadi ia memutuskan untuk menonton televisi dan memilih mengabaikan pening di kepala ketimbang harus mencari-cari benda kecil ditengah laci kamarnya yang sudah tak karuan.

Tepat pukul satu siang ketika ia memutuskan memakan apapun yang ada dalam lemari pendingin melihat Minho belum juga kembali. Satu usapan selai kacang di permukaan rotinya ketika ia merasakan sesuatu yang agak tidak normal terjadi di luar rumah. Pekarangan rumahnya terdengar begitu berisik. Jadi dengan hati-hati ia menuju jendela depan dan mengintip dari sela-sela tirai. Predikat sebagai buronan membuat sifat paranoidnya sering muncul.

Dadanya mulai berdegup tidak normal ketika melihat banyak mobil polisi terparkir beberapa blok di depan rumah. Mungkin hanya pencurian kecil, Jinwoo berusaha berpikir positif walaupun ia sudah ingin pipis di celana. Maniknya menelusuri sepanjang ruang tengah lalu menemukan sesuatu yang janggal. Tiga koper besar penuh lembaran won yang semula ada di sofa kini raib, tak ada ditempatnya.

Otak Jinwoo mulai bisa mengaitkan beberapa hal ketika telinganya mendengar suara seseorang yang kira-kira seumur ayahnya tengah berbicara melalui megaphone, disusul kedap-kedip warna biru dan merah yang terbias dari kaca jendela.

Kepalanya dipaksa berpikir lebih cepat. Minho tak ada dikamar, selimut yang terlipat rapi, van tidak ada di garasi dan uang tak ada di tempatnya semula.

Oh yaampun.

Ia setengah berlari, menyahut posel yang tergeletak di kasur dan Ia menekan layarnya dengan tergesa. Maniknya mencari-cari kontak Minho disitu. Namun ketika rasa panik sudah ada diubun-ubun, suara di seberang sambungan teleponnya membuatnya terhuyung seketika. Rasa mual tiba-tiba muncul di perutnya. Kalau bisa ia benar-benar ingin mengumpat.

 

 

“The number you’ve dialed is no longer in service.”

 

Song Minho, seharusnya dari awal ia tak pernah berurusan dengan lelaki itu.

“Anda sudah dikepung!”

Damn it, you’ll die, Kim Jinwoo

 

 

end

Advertisements

3 Comments

  1. Ah god, kau tertipu, Kim Jinwoo.

    It’s really cool, sistaaaa! I like action fictions!

    yeah, meskipun ficlet pendek tanpa ada adegan tembak-menembak, tapi tetep aja ada waktu menegangkannya. Yeah, mau aja ditipu, #manadiataukalolagiditipu akhirnya dia yang masuk penjara, hahahaha…

    Think you’re so cool, sista! Keep writing!

  2. halo kak, ini keren. aku suka! aku pas baca ikut deg degan juga mana bayangin muka si jinwoo yang aduh pasti kesian banget deh itu. nahkan, nahkan di bohongi minho -.- salah pergaulan nih wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s