Of Mid Spring, Wish and Kim Jongdae

-Chen-exo-m-33523424-400-486-8653

Hana akan selalu menjadi ibu peri bagi Kim Jongdae

 

*

Kim Jongdae mempunyai senyum yang manis. Itu kesan pertama yang Hana dapatkan saat melihat bocah itu beberapa minggu lalu. Dia menyapa Hana sambil menyodorkan tangan mungilnya yang agak kotor―sisa tanah mungkin. Pada awalnya Hana sedikit ragu. Ia tak suka kotor dan mendapat tetangga baru bukan merupakan keinginannya.

Hana menggerutu pada orang tuanya, pada Coco, anjingnya, pada penjual sayuran di dekat rumahnya bahwa ia tak ingin mempunyai tetangga baru apalagi tetangga barunya adalah seorang bocah lelaki. Yah, walaupun ia memiliki senyum yang manis sekalipun tapi bocah lelaki tak akan pernah mengerti apa yang ia mau kan ?

Tapi kau tahu kan bagaimana pemikiran seorang bocah ? Hal itu hanya terjadi pada awalnya saja dan sekarang kedua bocah berumur sembilan tahun itu sudah begitu dekat, lengket bagaikan permen karamel.

Bagaimana tidak ? Rumah mereka yang hanya terpisah pagar mungil berwarna coklat tua membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Kalau Hana sedang bosan ia akan berteriak memanggil nama Jongdae dari pekarangan rumah dan ‘blush’, secepat kedipan mata Jongdae sudah berdiri di depan Hana dengan senyum manis yang Hana suka dan rambut berantakannya.

Hana mengerti banyak hal tentang Jongdae.

Bagaimana bocah itu begitu sayang dengan kucing peliharaannya, bagaimana ia sangat menyukai kue pai apel buatan ibu Hana dan bagaimana ia bisa duduk di atas ayunan yang ada di pekarangan belakang rumah Hana selama berjam-jam―sampai kadang Hana akan pulang dengan mulut cemberut karena bocah itu tak mau membagi ayunan dengan Hana.

“Kim Jongdae ! ayahku baru membuatkan ayunan baru di pekarangan rumah. Mau mencobanya ?” Kala itu Hana berteriak girang dari balik pagar cokelat rumahnya. Sebelah kakinya memijak pagar dan satu kakinya dibiarkan berayun-ayun.

Ayahnya sedang libur hari itu dan Hana terus saja merengek meminta ayunan. Ia sangat kesal ketika teman satu kelasnya bercerita tentang ayunan di belakang rumahnya dan Hana bertekad untuk mempunyai satu. Kebetulan ada satu pohon yang dahannya cukup kuat untuk dipasangi ayunan. Jadilah ayah Hana harus mengeluarkan perkakas tukang dari gudang dan merelakan beberapa jam waktu santainya untuk memenuhi permintaan anak perempuannya yang cerewet.

Hana sedikit meniup poninya kesal, sudah empat kali ia memanggil Jongdae tapi bocah itu belum keluar juga.

“Jongdae !”

Pada teriakan ke lima kepala bocah lelaki yang sedari tadi Hana tunggu menyembul dari balik pintu rumahnya.  “Ada apa Hana ? Aku sedang makan.”

Oh, bersyukurlah Hana karena ia tidak perlu berteriak memanggil-manggil nama yang sama sebanyak enam kali. Mungkin kalau Jongdae tak kunjung keluar, kakek Kim yang tinggal di depan rumah Hana akan keluar dan memukuli pantat gadis itu karena suaranya yang begitu berisik.

“Lihatlah apa yang ayah buatkan untukku.” Hana menunjuk ayunan kayu sederhana yang barusaja jadi. Ia punya tali merah cerah yang cukup kuat untuk menopang berat tubuh dua bocah sekaligus, papan kayu yang sepertinya nyaman untuk diduduki dan pohon rindang yang menaunginya.

Benar saja, dalam hitungan detik bocah lelaki itu berlari, melompat pagar cokelat pembatas rumah mereka dengan agak susah payah. Matanya membulat kagum dan senyum manis menghias bibir mungil yang penuh dengan remah roti.

“Ya ampun Hana, bagaimana kau tahu kalau aku sangat menginginkan ayunan ? yah walaupun benda ini tidak berada di halaman rumahku, tapi-tapi kau mengabulkan permintaanku dan kau terlihat seperti ibu peri !”

Ibu peri ? Bahkan Hana tak tahu kalau Jongdae begitu menginginkan ayunan. Apakah ia masih bisa disebut ibu peri kalau ia bahkan tak tahu apa keinginan bocah ini ?

Tanpa ia sadari pipi putihnya bersemu semerah tomat. Ia tak peduli. Ia suka dengan panggilan ibu peri dari Jongdae dan ia suka melihat senyum di bibir bocah itu.

Malam itu, setelah berganti piyama, Hana mengeluarkan buku kecil bersampul merah jambu yang baru saja dibelikan ibunya. Ia menggoreskan tulisan-tulisan yang lebih mirip ulat bulu pada kertas di buku tersebut dengan pen bergambar beruang teddy miliknya. Senyum-senyum aneh terus saja terbentuk di bibir ceri gadis itu.

 

Jadi Jongdae menginginkan ayunan ? Catat.

 

Mereka melihat hujan meteor pertama saat umur keduanya menginjak tiga belas tahun. Malam di pertengahan musim gugur dan udara begitu dingin hingga bisa membekukan seluruh tulangmu.

Hana masih belum mengganti baju seragam sekolahnya bahkan ia belum mencopot dasi yang bertengger di lehernya. Salahkan kegiatan ekstrakulikuler yang mengharuskannya tinggal di sekolah lebih lama. Kadang Hana iri dengan Jongdae, ia memilih tidak mengikuti kegiatan apa-apa dan bisa bermain dengan bebas selepas sekolah.

Aku ingin menikmati masa di sekolah menengah pertama, Han. Itu yang Jongdae ucapkan tempo hari dan sepertinya Jongdae betul-betul tahu bagaimana cara menikmatinya.

“Hana ayo melihat bintang.”

Hana masih meneguk segelas air mineral saat Jongdae masuk ke kediaman keluarga Park dengan tiba-tiba, membuat ia tersedak karena air yang ia minum belum sepenuhnya tertelan.

“Bintang ? Aku bahkan melihatnya setiap malam Jongdae. Jadi biarkan aku beristirahat malam ini, ya ?”

“Tidak, tidak ini bukan bintang yang biasa kau lihat. Ini hujan bintang, Han. Pembawa berita tadi siang mengabarkan tentang hal ini !”

Ya ampun sejak kapan seorang remaja bernama Kim Jongdae menonton berita ? Oh, sepertinya dunia hampir kiamat. Hana paling tahu kalau Jongdae begitu membenci acara berita dan ia tahu Jongdae tak akan pernah melihat acara itu walau channel-channel di televisinya hanya menayangkan acara berita. Jadi apa yang membuatnya sampai rela menonton acara itu ?

“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil jaket dan hei, kau bahkan tak memakai syalmu Jongdae. Aku akan ambilkan satu untukmu.” Hana menghela napas pelan dan bergegas mencari jaket dan dua buah syal untuknya dan Jongdae. Beruntung Chanyeol, kakak lelakinya punya beberapa buah syal yang bisa mereka pakai.

Sebenarnya Hana lelah. Ia telah menghabiskan waktu seharian untuk mendengarkan ocehan guru-gurunya ditambah waktu untuk kegiatan usai sekolahnya. Ia bersumpah ia akan menendang pantat siapapun yang berani mangajaknya melihat bintang di malam musim gugur seperti ini.

Tapi apa boleh buat. Jongdae yang meminta. Ia paling tak bisa menolak apapun yang Jongdae minta.

“Cepatlah Hana, hujan bintang tak bisa menunggu. Aku tak mau kita melewatkannya sedetikpun.”

Mereka berakhir dengan duduk berdempetan di atap rumah Jongdae setelah Jongdae mati-matian membujuk Hana untuk naik bersamanya. Hana takut ketinggian dan atap rumah bukan merupakan tempat yang cukup aman untuk dipijak. Mereka bisa saja menjatuhkan beberapa buah genting atau yang lebih buruk badan mereka yang akan jatuh dari sana.

Hana tak mau mengambil risiko, sungguh.

Tapi dengan uluran tangan Jongdae dan kata-kata manisnya, gadis itu luluh. Semua kata-kata Jongdae selalu bisa membuat Hana percaya, apapun itu. Ia terkadang sebal, bagaimana ia bisa menjadi seperti orang dungu dan mempercayai semua perkataan bocah tengil itu.

Hal seperti ini sering terjadi pada waktu-waktu sebelumnya. Sebutlah saja dengan bodohnya  Hana percaya begitu saja saat Jongdae mengatakan bahwa di bulan ada kelinci atau saat mereka membeli es krim.

Hana tak suka rasa pistachio tapi Jongdae bilang rasa itu enak. Jadi Hana membeli satu es krim dengan rasa pistachio dan mencobanya. Coba tebak, es krim itu berakhir di tempat sampah dan Hana hanya bisa meringis merasakan sensasi yang sangat tidak enak di mulutnya. Jongdae sialan.

Angin malam musim gugur masih setia bertiup, mengabsen sertiap inchi kulit mereka yang tak tertutup jaket. Ini cukup menyiksa sebenarnya. Hana sudah akan turun dari atap kalau Jongdae tak menggenggam tangannya dan mencegah gadis itu.

Mereka menunggu dan menunggu sampai akhirnya langit yang hitam pekat dipenuhi oleh ribuan bintang. Saking banyaknya sampai kau bahkan bisa mengucapkan semua permohonanmu sekaligus. Mereka berjatuhan bagai serpihan-serpihan kembang api yang Hana lihat saat musim panas, entah ke mana, yang pasti ia tak akan sempat untuk memikirkan hal itu karena ia terlalu sibuk menganga.

Ini pemandangan terbaik selama hidupnya dan melihatnya bersama Jongdae merupakan pilihan termanis. Bahunya menyentuh bahu Jongdae dan Hana benar-benar tak tahan untuk mendaratkan kepalanya di bahu lelaki itu. Ia barusaja tersadar kalau aroma tubuh Jongdae tercium seperti bau vanilla, manis dan nyaman.

“Andai aku bisa menyentuh mereka dan membawa pulang satu saja.” Jongdae mengucapkan satu permohonan di tengah bias cahaya yang mengenai wajahnya.

“Kau ingin menyentuh bintang ?”

“Kalau aku bisa, aku sangat ingin.”

“Kalau begitu ikut aku.”

Hana menarik tangan Jongdae perlahan, membawanya turun dari atap dan berlari menuju rumah Hana. Ia membuka pintu kamar dengan agak tergesa, menyuruh Jongdae untuk menutup mata selagi matanya mencari saklar lampu.

“Kau boleh membuka mata.”

Kamar itu gelap saat Jongdae perlahan membuka matanya, membuat beberapa buah cahaya hijau dari bintang-bintang mainan glow in the dark yang tertempel di seluruh dinding kamar gadis itu berpendar. Benar-benar tipikal kamar seorang gadis yang baru menginjak remaja.

“Kau bisa menyentuh bintang sepuasmu, tuan. Ah kau bahkan bisa membawa satu buah kalau kau ingin.” Hana berkata girang sambil menunjuk beberapa bintang mainan itu, merasa puas karena setidaknya ia bisa mengabulkan permohonan Jongdae.

“Jadi ini yang kau maksud, Han ?”

Gadis itu mengangguk senang, matanya membulat lucu. Sungguh sebenarnya Jongdae sangat ingin terkikik saat ini, tapi setidaknya sahabatnya itu sudah berusaha mengabulkan permintaannya walaupun ini sangat tidak masuk akal. Jadi Jongdae hanya bisa tersenyum manis, tangannya meraih pipi Hana.

“Terima kasih. Aku menyayangimu.”

Untuk pertama kali dalam tiga belas tahun hidupnya jantung Hana berdegup begitu kencang bahkan mengalahkan bunyi tabuhan drum Sehun, teman sekelasnya. Ia kira itu bunyi paling berisik, tapi ternyata bunyi jantungnya lebih dari berisik.

Tangan Jongdae hangat, sehangat susu coklat plus marshmallow yang sering ibunya buatkan sebelum ia jatuh tertidur, sehangat selimut merah muda yang setiap malam menemaninya bermain dalam mimpi atau sehangat bulu-bulu coklat milik Coco.

Jongdae ingin menyentuh bintang. Catat.

 

______

Waktu berlalu begitu cepat.

Mereka menginjak umur tujuhbelas tahun dan Jongdae tumbuh menjadi lebih tinggi−dan tampan. Lelaki itu menjadi sangat sangat sangat tampan. Aku ingatkan ada tiga kata sangat di sana.

Jongdae menjadi pria yan cukup populer di sekolah, sama populer dengan Kai si bintang tari atau Kris si Picasso sekolah. Mungkin ia tak pandai menari seperti Kai atau pandai menggambar seperi Kris, tapi Jongdae tumbuh menjadi pria yang konyol dan ramah. Dengan rambut hitam lembut, rahang yang kokoh, gurauan-gurauan yang manis dan Ya Tuhan, dia bahkan memakai piercing di telinganya (oke, Hana barusaja tahu untuk yang satu ini).

Hana akui ia kurang menyukai penampilan telinga kanan Jongdae, tapi itu cukup membuat gadis seantero sekolah memujanya habis-habisan.

Kadang Hana sedikit risih akan pekikan-pekikan beberapa gadis saat ia dan Jongdae lewat di lorong kelas. Padahal mereka hanya ingin membeli jus jeruk, itu saja. Ia tak mengira jika membeli jus jeruk bisa membuat telinganya sakit.

“Aku benar-benar akan menendang pantat Zitao.” Hana mendesis di tengah makan siang mereka. Matanya memicing kearah telinga kanan Jongdae dan benda hitam kecil yang terpasang di sana. Ia sedikit memilin sedotan jus jeruk yang malang itu dengan kesal.

“Lihat dirimu, kau jadi terlihat seperti anak nakal, Kim Jongdae.”

“Ayolah Hana. Ini hanya piercing kecil dan normal untuk anak lelaki memakainya. Kau lihat para member idol kesayanganmu ? EXO atau apalah itu.  Mereka juga memakai yang seperti ini dan kau tak pernah mengeluh. Lagipula ini tidak mencolok seperti punya Taozi.”

“Normal kalau siswa lain seperti Zitao yang memakai benda itu,” Mulut gadis itu mulai mengeluarkan rentetan kata-kata panjang yang bahkan mungkin tidak bisa Jongdae dengar dengan jelas keseluruhannya.  “Tapi ini kau, Kim Jongdae. Aku hampir seharian bersamamu dan sekarang gara-gara piercing bodoh itu aku harus membiarkan telingaku menjadi sakit karena pekikan para gadis ! Ew, bahkan mereka mulai melihatku dengan tatapan ‘kami-akan-membunuhmu-jika-kau-mendekati-Kim-Jongdae’.“

Gadis di depannya masih mengoceh sementara Jongdae hanya bisa berusaha menetupi kedua daun telinganya. Sungguh ia benar-benar butuh apapun untuk sekedar mengganjal lubang telinga. “Kenapa kau jadi marah-marah sih atau tunggu, kau cemburu ?” Bibir Jongdae terangkat sebelah, memperlihatkan senyum jahil di sana. Maniknya memicing ke arah gadis itu.

Ya Tuhan

Mungkin sekarang asap tengah mengepul di puncak kepala Hana. Wajahnya sudah semerah tomat rebus. Kakinya bergerak gelisah dan tangannya sudah basah karena keringat. Apa yang baru saja di katakan Jongdae ? tidak tidak, ini tidak benar.

Oh My God, up to you, dude.”

Masih dengan wajah semerah tomat dan asap di kepala Hana bangkit dari tempat duduknya, menimbulkan suara decitan bangku yang agak nyaring. Dengan cepat ia berbalik hendak pergi, kemanapun asal tidak ada pria ini agar dia bisa menormalkan kembali jantungnya yang berdegup bak suara petasan. Toilet bisa menjadi pilihan mungkin ?

Ia ingin aku tidak mengeluh tentang piercing yang dipakainya. Catat.

___

Hana tak pernah mengira, sama sekali, bahwa suatu hari Jongdae akan meninggalkannya. Ia kira ia akan selamanya bersama pria itu. Menghabiskan sisa-sisa waktunya yang menyenangkan bersama Jongdae. Tapi ia sadar perkiraannya jauh meleset pada saat ia berumur sembilan belas tahun.

Jongdae mendapat beasiswa untuk kuliah di Jerman dan itu artinya Jongdae harus pergi jauh.

Hana mengantarnya ke bandara, ia mendapat pelukan dan usapan kecil di kepala bahkan ciuman di pipi. Hana mengantar Jongdae dengan senyum yang mengembang kala itu. Yang ada di kepalanya saat itu adalah mungkin tiga tahun tanpa Jongdae tak akan berarti apa-apa, mungkin tiga tahun tanpa Jongdae berarti ia tak lagi mendengar ocehan-ocehan Jongdae yang berisik, mungkin tiga tahun Jongdae berarti ia bisa bebas dari pekikan-pekikan para penggemar Jongdae atau ia tak perlu lagi berbagi pai apel buatan ibunya dengan bocah itu.

Hal ini cukup bagus, ya cukup bagus pada awalnya. Ia menghabiskan waktu seharian di salon tanpa gerutuan Jongdae, ia membeli banyak pernak-pernik di toko aksesoris tanpa gerutuan Jongdae, juga bergosip dengan teman-teman di kampus tanpa gerutuan Jongdae.

Yaampun, ini menyenangkan ! Pekiknya kala itu.

Satu tahun berlalu seperti itu, lama-kelamaan ‘hal-hal tanpa Jongdae’ tidak lagi mennyenangkan baginya dan gerutuan Jongdae menjadi salah satu hal yang paling ingin ia dengar. Ia merutuki dirinya sendiri yang pernah berkata kehidupan tanpa Jongdae akan begitu menyenangkan, kenyataannya tidak sama sekali.

Sungguh, ia rindu Jongdae.

Itu sore yang hangat di saat umur Hana menginjak dua puluh satu tahun. Angin musim semi yang harum masuk melewati celah-celah jendela yang terbuka. Sehun, teman sekelas saat sekolah menengah pertama baru saja mampir dan mereka bercerita banyak mengenai masa lalu.

Mau tak mau gadis itu teringat akan sahabat kecilnya, Kim Jongdae.

Memang, Jongdae menelepon dua kali dalam sebulan untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar gadis itu, apakah Hana sudah punya pacar, atau hal-hal lainnya. Hana tahu lelaki itu begitu sibuk dengan lingkungannya yang baru dan ia mencoba mengerti. Namun ia begitu egois dan sambungan telepon dua kali sebulan tak cukup baginya, ia ingin Jongdae ada di sampingnya, itu saja.

Setelah percakapan yang cukup menyenangkan dengan Sehun, Ia kembali ke pekarangan belakang rumahnya, duduk di ayunan yang dulu sering ia pakai bersama Jongdae dengan buku merah jambu usang di pelukannya. Di atas kertas-kertasnya sudah kumal ia menghitung satu-persatu permintaan-permintaan Jongdae dan tak sadar sudah begitu banyak yang dengan susah payah ia kabulkan. Ia menulis tentang ayunan, bintang, es krim, termasuk piercing hitam yang entahlah masih pria pakai atau tidak.

Lalu gadis itu bergumam kecil, tidak bisakah kali ini ia saja yang meminta Jongdae mengabulkan permintaannya ?

Di saat air matanya hampir saja menetes, ia melihat sepasang sepatu cokelat di atas rumput yang agak mongering. Tali-talinya tak terikat dengan benar dan ia hapal betul siapa orang dengan sepatu seperti itu. Ia mendongak, itu Jongdae dengan setelan kemeja berwarna biru laut yang menenangkan, sedang terseyum dengan oh yaampun sungguh manis di depannya.

 

“How’s life ?” itu kalimat pertama yang meluncur dari mulut lelaki itu. “Sudah merindukanku ?”

Hana ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tak salah lihat, tapi pandangannya kabur karena airmata yang menumpuk. Namun telinganya tak pernah berbohong, itu Jongdae dengan suara hangat miliknya. Air matanya jatuh begitu saja, mengenai rok hijau mint yang dipakainya, membuat  titik-titik berwarna lebih gelap di sana.

“Ha, siapa yang bilang kalau hidup tanpa Jongdae akan begitu menyenangkan. Kau menyesalinya ‘kan nona ?”

Ia tetap sama, Jongdae yang suka bercanda dan Hana akui ia tidak begitu suka dengan candaan-candaan yang keluar dari mulut Jongdae kali ini. Hei lelaki mana yang akan bercanda di saat seperti ini ? Tapi persetan dengan semua gurauannya yang ingin Hana lakukan saat ini adalah memeluk pria itu.

“K-kenapa kau bisa di sini ?” Kata Hana dengan suara parau yang lebih mirip suara burung beo peliharaan kakek Kim. “K-kukira kau sibuk dengan kuliahmu.”

Mata gadis itu sudah begitu merah dan ingusnya hampir saja keluar. Melihat hal itu Jongdae tak bisa menyembunyikan kikikannya. “Ada hal yang hal yang ingin kukatakan padamu.”

“Kan kau bisa bilang lewat sambungan telepon.” Hana mendengus, menampik semua rindu yang sudah menumpuk di dadanya begitu melihat betapa tidak serius nya pria ini.

“Aku lelaki sejati, Hana. Seorang lelaki tak pernah mengatakan suka lewat sambungan telepon, ia harus menyatakan cinta dengan menatap mata sang gadis.”

Ia berjongkok, telapak tangan pria itu menyentuh pipi Hana, maniknya cokelat hangatnya mengunci milik Hana dan gadis itu tak sadar kalau mukanya sudah berubah merah.

So, would you be my girlfriend ?”

Sore yang hangat di mana Hana si gadis berumur dua puluh satu tahun duduk di atas ayunan usang miliknya. Tempat duduknya bahkan sudah tak cukup tapi Hana tetap memaksa mendudukinya. Talinya yang dulu begitu kuat telah rapuh terkena hujan dan panas. Pikirannya kembali pada beberapa tahun kebelakang saat ia bahkan masih suka menonton film kartun. Ia bilang ia akan selalu jadi ibu peri bagi Jongdae, mengabulkan apa yang pria itu minta walau kadang keinginannya sendiri tak terkabul. Ia bilang akan tetap menjadi ibu peri bagi Jongdae walaupun Jongdae sering sekali mengusilinya dan jahat padanya.

Alasan kenapa gadis itu tetap ingin menjadi ibu peri untuk Jongdae adalah karena dengan begitu ia bisa melihat senyum Jongdae setiap hari. Karena dengan senyum Jongdae, pria itu telah mengabulkan keinginan Hana.

Ada satu rahasia yang pria bernama Kim Jongdae itu mungkin tak akan pernah tahu, kalau  dari semua hal yang Jongdae minta, ada satu yang paling Hana suka.

Jongdae ingin aku jadi pacarmya, catat.

Advertisements

17 Comments

  1. So unyu so fluffy so kece so sweet so bikin nge-fly aaakk<3
    Cinta banget sama jongdae disini omoh, rambut keriting, nakal nakal unyuk gitu yekan cintalovesukak!
    Hahaha..btw salam kenal aku sya/ica line98 pft c:

    1. haloo sya/ica 🙂 aku panggil kamu siapa ini hehe ? ato aku panggil nya ica aja boleh ya ? makasih yah sudah baca dan review 🙂 iyanih emang si jongdae kan begitu orangnya nakal sampe pengen tabok tapi gatega juga soalnya dianya unyu :” salam kenal yah ica aku asa 93l 🙂 nice to have you here~

  2. holla hai asa, aku suli salam kenal
    ini fic yang manis, serius! semanis jongdae dan senyumannya
    plot kamu ngalir gitu… bahasa kamu juga nyaman buat dibaca. mungkin banyak fic yg mengusung tema kayak gini, tapi aku lihat kamu bikinnya menarik dgn hana bak ibu peri
    terus berkarya ya~

    1. kaaak suli kita udah kenalan kali kakak huhu :’) eyaudah aku kelanil diri lagih yaah, aku asa 93l hehe eh ini kak suli ifk kan ? ntar bukan lagi :’) makasih yah kak udah baca dan review, seneng banget kakak mampir kesini 🙂 kakak juga terus nulis yaah, thanks for the sweet sweeeeet review kak XD

  3. ya ampun manisnya,,,, aku sampe meleleh kayak kejemur matahari…
    hana manis banget, catet semua keinginan jongdae… polos tapi manis..
    ahhhh jadi iri kan,,, hehehehe,,,
    dan yg tentang piercing itu juga menurutku manis banget.. hana perhatian bngt ke jongdae meski kesannya hanya sebagai teman lama… dia mulai kesel karena cewek2 seneng sama jongdae… hehehe…

  4. ASTAGAH INI BENER2 MANISSS!! Aku sampe teriak luh pas jongdae nembak hanaa. Astagah aku speechless wkwkwk bahasanya keren lhoo, aku suka banget! Terus berkarya yaaa, semangatt!!!

  5. Annyeong Asa Eonni.. Kenalin, aku Nisa 99l 🙂

    Aku baru pertama kali baca ff disini, tpi kyanya aku bakalan sering2 deh soalnya ff2 disini pd keren smua.. (y)

    OK, Keep Writing, Eonni 🙂

  6. suka bgtt sama ff ini, ceritanya sederhana tapi mengesankan. Paling suka bagian terakhir yg bikin aku senyum” kayak orang gila
    Keep writing thor !

  7. OMG kak XD
    Entah kenapa aku terlalu mencintai sosok TrollDae disini :’v
    Dia itu tipikal cowok idaman lah.. Kira-kira begitu XD
    Aku juga suka karakter Hana yang sok ga terjadi apa-apa pas Jongdae dateng didepan dia :’v

    Perfect lah kak 😀
    Suka banget disini, simple dan konflik persahabatan khas remaja ^^

  8. aduh aku meleleh ini TT.TT
    huaaaaaaa kok kim jong dae bisa semanis itu sih, kak? biasanya aku baca fic jongdae tuh dianya jadi cowok konyol yang berisiknya minta ampun! tapi disini dia dijadiin sweet gini aduh aku ngga kuat kak>,< ya walaupun dia masih berisik sih tapi tetep sweet. apalgi yang terakhir itu aduh duh duh/gelindingan/

  9. Kaaaakkkkk aku nyari nyari fict tentang Jongdae jarang bangeeeeeeeeeeeeetttttttttttt yang semanis ini. Ya ampun susahnya nyari yang main cast nya si troll ini, sekalinya dapet manis bangettttt sukaaa!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s