10:12 on That Night

10200

 

 

 

“Monsters don’t sleep under your bed, they live inside your head”

.

 

Itu sabtu malam ketika kereta terakhir yang masih mau beroperasi malam itu  bergerak tenang−sedikit lengang karena memang jam pulang kantor sudah lewat beberapa jam lalu. Hanya ada seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki dengan setelan kemeja pastel yang agak berantakan di gerbong itu. Ia Yixing, sibuk dengan ponselnya sambil mengendurkan ikatan dasi yang serasa mencekiknya.

Biasanya Yixing lebih memilih tidur di salah satu bangku kereta, tak peduli walau orang di sebelahnya sudah sangat terganggu dengan dengkuran yang lebih mirip suara mobil tua ayahnya. Atau kadang jika ia beruntung ia bisa bermimpi  mengencani seorang gadis cantik sepanjang perjalan menuju apartemennya. Atau hanya sekedar melamun sembari memikirkan apa yang harus ia santap untuk makan malamnya yang agak terlambat

Tapi berbeda untuk malam ini. Lelaki itu lebih memilih berdiri di dekat pintu kereta-berharap pintunya akan sesegera mungkin terbuka dan ia bisa bergegas keluar ketimbang duduk di salah satu bangku panjang kereta. Tas ranselnya ia letakkan sembarangan di lantai gerbong tempat ia berdiri.

Ia berkali-kali menghela napas tanda pikirannya sedang kalut sembari bolak-balik melihat ponsel. Tepat jam Sembilan malam dan seharusnya ia tak pulang sampai selarut ini. Bukan apa-apa, ia hanya meninggalkan rumah saat Luhan, adik sepupu tercintanya sedang tertidur.

Itu siang di hari sabtu saat bosnya tiba-tiba menelepon untuk rapat penting yang harus ia hadiri. Luhan sedang tidur di kamarnya dan tidak tega untuk membangunkannya. Jadi dengan gerakan kilat ia menulis pesan dan ia tempelkan di pintu lemari es berharap bocah itu membacanya. Terkutuklah bos Yixing karena pria tua itu, Yixing harus kehilangan satu hari istirahatnya

Yixing memang tipikal yang terlalu pencemas dan ia membenci sifatnya itu pada saat seperti ini. Bahkan pikirannya sudah berkelana memikirkan kejadian-kejadian yang tak ia harapkan. Seperti Luhan akan membakar apartemennya saat bocah itu lapar dan mencoba menyalakan kompor, meninggalkan pintu apartemen tak terkunci sedangkan ia sibuk bermain dengan Yumi, anak tetangga sebelah atau seperti Luhan akan dengan senang hati membiarkan perampok masuk hanya karena ia memegang permen kapas―Luhan memang fans fanatik permen kapas.

Yixing mengetik pesan cepat, mencoba mengurangi kegelisahannya dengan memberitahu Luhan bahwa ia sebentar lagi sampai rumah. Ia pikir tak apa meninggalkan anak lelaki berumur sepuluh tahun sendirian di apartemennya. Siang tadi ia telah menelepon Luhan, memberitahunya bahwa ia harus ke kantor untuk menghadiri rapat penting. Ia terdengar baik, jadi mungkin tak ada alasan untuk terlalu gelisah.

“Oh ayolah, apa yang bisa dilakukan bocah ingusan berumur sepuluh tahun ?” Ia berbicara sendiri layaknya orang sinting saat ponselnya bergetar. Nama Kim Jongdae terpampang di sana. Dahi Yixing sedikit berkerut. Tak biasanya Jongdae menelepon malam begini.

“Ada apa, Kim ?”

__

 

“Luhan ?”

Badan Yixing roboh di sofa merah marun ruang tengah. Masih berusaha memanggil Luhan di tengah kantuk yang mulai menderanya. Rapat perusahaan tak segampang kedengarannya memang, butuh tenaga ekstra keras untuk bisa tetap fokus mengikuti jalannya rapat di siang bolong dengan kedaan kurang tidur. Bahkan ia tak menghiraukan kaus kaki yang belum terlepas sedari tadi.

Gege sudah pulang ?” Luhan menyembul dari balik pintu dapur dengan kaus yang belepotan−entah itu noda apa. Ia tampak berantakan dengan rambut coklat madunya yang kusut. Kaki-kaki kecilnyanya berjinjit-jinjit melewati lantai yang basah.

Luhan baik-baik saja dan tak ada yang terjadi dengan apartemennya, bahkan kini lantai flatnya bersih−mungkin bocah itu mengepelnya. Salah satu hal yang paling melegakan bagi Yixing untuk minggu ini. Percayalah, seminggu ini tak ada yang bisa membuat Yixing lega mengingat pekerjaanya yang belum terselesaikan menumpuk bak cucian kotor di kamarnya.

 

“Semua baik, kan ?” Seolah semua ketegangan yang melanda tubuhnya sedari tadi langsung menghilang melihat sudut-sudut bibir bocah itu yang terangkat. Ibu jari nya terangkat kearah Yixing menandakan keadaan apartemen nya baik-baik saja. “Good Job, Lu” Dan Yixing pun tak tahan untuk mengusap lembut rambut coklat madu bocah itu.

 

Luhan anak lelaki yang manis, Yixing akui.

 

Matanya berkilat seperti rusa kecil yang ingin meminta sebuah permen kala ia berdiri di ambang pintu apartemen Yixing bersama kedua orang tuanya. Ia tinggal seminggu di apartemen Yixing karena ayah dan ibu Luhan harus pergi untuk urusan bisnis. Awalnya Yixing menolak, ia tak begitu terbiasa dengan anak kecil. Tapi karena Luhan sangat manis, maka Yixing menyetujuinya. Toh hanya seminggu, itu tak akan berpengaruh banyak pada kehidupan Yixing.

“Maaf Lu, aku meninggalkanmu saat kau masih tertidur,” Maniknya menatap milik Luhan berharap bocah itu mengerti. “Dan maaf, padahal aku berjanji mengajakmu mencoba wahana ice skating yang baru buka sore ini.”

“Tak apa Yixing ge, kita bisa melakukannya lain kali.” Luhan tersenyum riang disela kegiatannya mengelap tangan yang kotor pada kaus bergambar bebeknya, membuat noda-noda itu bertambah banyak di permukaan kausnya.  “Oh iya, aku membuatkan omelet untukmu ge. Ada di dapur. Makanlah selagi aku mandi lalu kau bisa membacakan cerita Jack dan Pohon Kacang untukku. Ya, ge ?”

Jack dan Pohon Kacang ? Yixing tak terlalu suka cerita itu. Mana ada pohon kacang yang bisa tumbuh setinggi langit ? Ia hampir saja menyebutkan The Little Mermaid saat ia teringat akan bahan presentasi yang belum selesai. “Oh, kumohon tidak sekarang, Lu.”

 

“Oh ayolah.”

 

“Baiklah, tapi kau harus langsung tidur oke ?” perintahnya kepada Luhan. “Tunggu, kau membuat omelet ? Sudah kubilang untuk tidak menyentuh apapun di dapur selagi aku tidak ada, Lu. Kompor bisa membakar apartemen ini.”

“Tapi aku kelaparan ge,” Luhan menyungut tidak senang, sedikit ingat bagaimana ia berusaha keras menyalakan kompor tanpa harus membakar benda apapun di dekatnya. “Kau tidak meninggalkan uang dan aku tidak bisa membeli apapun termasuk sebatang cokelat di toko paman Kim.”

Helaan napas keluar dari mulut Yixing. Ia lupa meninggalkan beberapa lembar uang untuk Luhan sedangkan di lemari dapurnya sudah tidak ada bahan makanan apapun bahkan untuk sekotak sereal. Hanya ada beberapa kaleng alkohol di lemari pendingin dan kau berharap bocah sepuluh tahun mau meminumnya. “Oh baiklah, salahku.”

Bocah itu sedikit tersenyum sebelum berlari kecil menuju kamar mandi, handuk cokelat kesayangannya ia lilitkan di leher. Yixing memandang heran kepada bocah itu, kausnya lebih tepatnya. Main apa saja sepupu kecilnya itu seharian ini sehingga ia bisa terlihat lebih berantakan di banding dirinya sendiri. Huh, dasar bocah.

Manik lelaki Changsa itu tertuju pada ponsel yang teronggok begitu saja di permukaan sofa, membuat ia teringat akan Jongdae.  “Lu, apakah ada seorang pria datang kemari tadi ?”

Luhan membalikkan badannya dan memandang Yixing sebentar, alis-alisnya sedikit bertaut dan beberapa detik kemudian kepala mungilnya menggeleng cepat membuat helaian-helaian rambut cokelat madunya bergerak-gerak.

Hem, baiklah, kau boleh mandi bocah. Kau bau.” Pintu kamar mandi berdebum keras saat Yixing mengecek kembali ponselnya. Jongdae bilang ia akan datang mengembalikan jaket kulit milik Yixing yang tempo hari ia pinjam.

 

Yah, jaket.

 

Udara begitu dingin akhir-akhir ini tapi Jongdae dengan bodohnya mengajak Yixing berkeliaran dipagi buta. Dan apa yang ia temui pagi itu ? Jongdae dengan selembar kaus dan jaket tipis, serta celana pendek yang bahkan tak menutupi sebagian lututnya. Ia berdiri di pinggiran jalan yang sepi bak orang bodoh bersama sepeda sportnya plus dengan ringisan di mulut.

Beruntunglah Jongdae memiliki teman sebaik Yixing karena pada akhirnya Yixing rela meminjamkan salah satu dari beberapa lapis jaket yang ia kenakan untuk Jongdae. Tuhan begitu adil memberikan teman yag baik untuk Jongdae yang ceroboh.

Beberapa menit berlalu namun tak ada bunyi bel atau sekedar sambungan telepon dari Jongdae. Entahlah, mungkin Jongdae lupa atau mungkin sahabatnya itu sedang asyik dengan teman kencannya yang baru. Kebiasaan pelupa yang dimiliki lelaki itu sering membuat Yixing kesal, bahkan ia pernah melupakan janji dengan Yixing hanya karena ia asyik bermain game.

Ia hendak kembali menghubungi Jongdae saat matanya tertuju pada pintu kamarnya. Tidak ada yang aneh sebenarnya, hanya seingatnya Yixing sudah menutup pintunya pagi tadi dan kini ia mendapati pintunya terbuka lebar dan mainan-mainan Luhan berserakan didekatnya.

 

“Dasar bocah itu.” Yixing tersenyum kecil ketika tangannya menekanspeed dial.

 

Contacted-Kim Jongdae.

 

Jam sepuluh lewat dua belas menit, nada sambung masih terdengar saat jantung lelaki itu tiba-tiba berdegup kencang. Tidak, menghubungi Jongdae bukan merupakan hal paling menyenangkan sehingga jantungnya harus berdegup tak karuan seperti ia akan menelepon teman kencannya atau tak semenyenangkan memenangkan lotere berlibur ke luar negeri. Bukan itu yang membuat jantungnya menggila.

 

Ia bersumpah mendengar suara ponsel lain dari dalam kamarnya.

 

Semua orang tahu kalau tingkat keusilan Kim Jongdae hampir setinggi menara Eiffel. Jongdae adalah tipikal lelaki yang bisa dengan sengaja memencet bel rumah seseorang dan langsung kabur begitu sang pemilik rumah membukakan pagar. Jadi Yixing berpikir mungkin Jongdae sebenarnya sudah datang sedari tadi dan sedang mencoba bermain petak umpet, atau ini hanya keusilan Jongdae lalu setelah ini Jongdae akan keluar dari kamar Yixing sambil berteriak kegirangan seperti orang gila. Itu skenario yang cukup menyenangkan sepertinya, tapi otaknya terlanjur berpikir lebih jauh dan Luhan bilang tak ada siapapun yang datang, termasuk Jongdae.

 

Kemungkinan terburuk,

 

perampok ?

 

Dengan ketakutan yang menjadi-jadi ia mendekati pintu kamarnya. Tangan kiri memegang ponsel yang masih menyala ―ia belum memutus sambungan telepon dengan Jongdae― tangan kanan meraih benda apapun yang bisa ia jadikan pertahanan diri dan sebuah sapu menjadi sasarannya. Dering ponsel itu masih terdengar nyaring, membuat tangannya berkeringat berlebihan.

Ia menyimpulkan suara itu berasal dari arah lemari nya. Bunyinya bertambah keras saat kaki-kaki Yixing bergerak pelan menuju arah benda kayu itu. Jemarinya kini sudah berada di atas kenop-kenop pintu lemarinya, ia sedikit ragu antara memutar kunci lalu membuka lemari tersebut atau membiarkan siapapun yang berada di dalam sana mati sesak napas. Ia sedikit mendecih, di saat seperti ini rasa meyesal membumbung tinggi, kenapa ia bersikeras membeli lemari ukuran besar yang bahkan muat untuk dua orang di dalamnya padahal baju-baju yang Yixing punya tak sebanyak itu

“J−Jongdae ?” Yixing bergumam lirih, masih berharap jika makhluk yang ada dalam lemarinya saat ini adalah Jongdae, teman karibnya. Itu akan lebih terdengar menyenangkan, sungguh. Tetapi sayang tiga kali ia memanggil Jongdae, ia tak mendapat balasan apapun, hanya ada suara melengking nada sambung yang masih memenuhi telinganya dari tadi.

Jadi dengan keputus asaan ia memutuskan membuka lemari. Semoga Tuhan masih sayang padanya sehingga saat pintu lemari terbuka ia tak mendapati todongan pisau atau yang lebih parah ujung senjata api laras panjang yang mengarah tepat ke wajahnya.

Yah, semoga

Buka−ayunkan sapu−lalu siapapun yang ada di dalam sana akan pingsan−panggil polisi jika perlu. Itu rencana yang cukup baik, mungkin Yixing bisa menambahkan sedikit gerakan wushu yang Zitao ajarkan padanya jika siapapun yang berada di dalam sana melawan.

Namun reaksi yang berbeda justru timbul pada tubuh Yixing saat ia melihat apa isi lemari tersebut. Jika kau tahu bagaimana rasanya mulutmu ingin berteriak tapi semua isi lambungmu mendesak ingin keluar ? Yixing merasakannya saat ini dan rasanya tak pernah menyenangkan.

 

Itu karibnya, Kim Jongdae.

 

Tergeletak di antara deretan kemeja milik Yixing dengan tubuh penuh darah, bekas tusukan di sana-sini. Kepalanya sedikit menyembul keluar dan kalau Yixing tak salah lihat tangan Jongdae barusaja mengayun lemah, menggantung di atas lantai. Bibirnya sudah membiru, ponsel di saku celananya berkedip-kedip. Sungguh, ia tak pernah membayangkan skenario ini sebelumnya.

Ia hampir berteriak saat melihat Luhan yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Yixing dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Entah sejak kapan ia berdiri di sana, kaus bebeknya yang belepotan sudah ia ganti dengan kaus beruang yang lebih bersih. Tangan kirinya memegang boneka teddy yang ia biarkan menggantung, jari telunjuk kanannya ia tempelkan kearah bibir.

Ini lucu, sungguh lucu, tapi melihat reaksi Luhan, mulut Yixing yang sungguh tidak bisa diajak diam itu bergumam lirih. “L−lu jangan katakan―”

 

“Ssst, gege jangan berisik. Jangan bilang siapa-siapa, geplease. NantiMom dan Dad bisa memarahiku.”

 

“B−bagaimana bisa ?” Yixing tergagap. Kalau bisa ia berharap lantai di bawahnya menelannya bulat-bulat. Mulut Yixing serasa kebas dan kaki-kakinya lemas. Semua hal terasa membuatnya setengah menjadi orang gila.

Luhan sedikit meremas ujung kausnya. “Aku tidak tahu kalau ternyata itu paman Jongdae, aku pikir dia perampok. Dia memakai jaket kulit dan masker untuk menutupi wajahnya, Ge. Dia meminta dibukakan pintu. Aku ketakutan jadi aku membawa pisau dapur bersamaku,” Wajah bocah menunduk tanda ada rasa bersalah. “Matanya mengerikan dan saat dia masuk orang itu merogoh sesuatu di kantung celananya, aku pikir ia akan mengeluarkan pisau―”

“―jadi….jadi aku menusuk perutnya duluan,”

 

Sorry.” Kata bocah itu setengah terisak.

 

For God’s Sake, Luhan. What the hell are you doing ?”

 

Pria Changsa itu jatuh menghantam lantai. Kini ia dihadapkan pada dua pilihan yang menurutnya sama sekali tidak membantu. Pilihan pertama adalah ia harus membereskan mayat Jongdae, membersihkan semua kekacauan yang dibuat Luhan dan menutup mulut selamanya sehingga adik sepupunya akan baik-baik saja. Pilihan kedua ia harus menelepon polisi dan membiarkan adik sepupunya menjadi tersangka pembunuhan di umur nya yang masih sepuluh tahun.

Dalam selang beberapa jam kedepan, mungkin berita hilangnya Kim Jongdae akan tersebar. Polisi yang menyidik akan mendatangi apartemen Yixing dan menemukan seorang lelaki yang tengah terduduk frustasi di kamar miliknya bersama seorang bocah.  Mayat Jongdae yang tergeletak tak berdaya di lemari pemilik apartemen, kain pel dan kaus bebek yang penuh noda darah di kamar mandi dan pisau berlumuran darah yang ada di lemari makanan akan ditemukan setengah jam setelahnya. Kemudian dapat dipastikan tim forensik yang memeriksa mayat malang tersebut akan menemukan beberapa batang permen di kantung celananya.

Namun sedikit yang Luhan dan Yixing tahu. Jongdae mengenakan masker hanya karena dia sedang terkena flu. Jaket kulit itu kemungkinan besar adalah jaket Yixing yang ia pinjam. Dan Luhan maupun Yixing tak pernah tahu kalau benda yang ada di kantung celana Jongdae −yang Luhan kira pisau− sebenarnya hanyalah sebatang permen lollipop. Jongdae tahu kalau adik sepupu Yixing sedang berada di apartemennya dan ia menyempatkan diri membeli beberapa batang permen di perjalanan menuju apartemen Yixing.

Entahlah ini salah siapa. Salah Jongdae yang tiba-tiba datang di malam hari, salah Luhan yang terlalu berpikiran pendek atau mungkin salahnya sendiri karena meninggalkan bocah yang kelewat paranoid sendirian di rumah.

 

Oh ayolah, apa yang bisa dilakukan bocah ingusan berumur sepuluh tahun ?

 

 finish

 

A/N : haduuh ini udah lamaaaaa banget di draft tapi males ngelanjutin huhuu akhirnya baru bisa ngelanjutin kemaren. Makasih yang udah sempetin baca makasih juga buat fika sama kakput kemaren udah komen di ifk hehe komennya moodbooster sekalii 🙂

Advertisements

24 thoughts on “10:12 on That Night

    1. KAK ASAAAA~~~~ TAK KIRA PERTAMA BACANYA ITU HOROR KAK, YIXING TERPERANGKAP DI KERETA HANTU TERUS MAU DIBAWA KE MANA HUBUNGAN KITA GITU DEH KAK, eh ternyata bukan hehehet, aku parno banget bacanya soalnya malam malam aku sendiri tanpa cintamu lagi begitulah hehehet…..

      mulai dari luhan yang ngepel lantai itu aku udah mulai parno lagi “jangan jangan…..jangan jangan….. eh jangan jangan ….. loh loh jangan jangan…..ehhhh?” ya begitulah reaksiku takutnya itu bukan luhan tapi luhan yang asli udah dibunuh terus luhan yang palsu lagi ngepel ya begitulah kak, terusan waktu yixing telpon jongdae hati ini makin luluh lantah gimana kalo waktu jongdae ngembaliin jaket terus kebetulan pas ada perampok terus jongdae dibunuh perampoknya terus perampoknya sembunyi di rumah yixing siap siap nerkam yang punya rumah gitu deh kak, maklumi tingkat keparnoanku yang semakin tinggi mengalahkan tingginya daun pintu

      iyasih kalo jadi yixing pasti bingung mau gimana, tapi kalo ditangkep polisi pasti ujung ujungnya yixing yang kena nanti polisinya malah nuduh “kamu pasti memaksa sepupumu untuk memberikan kesaksian palsu, pasti kamu lah pelaku kejahatan yang sebenarnya! mengaku kamu!” lalu pak polisinya gebrak meja dihadapan yixing

      hehehet, kak asa aku kangen banget sama kak asa :3333

      SEMANGAT YA KAK ASA?! KEEP WRITING AND FIGHTIIIIING~~~~
      I LOVE YOUU~~~~ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

      1. LINTAANG UUU I MISS YOU ahahaha as always ya lintang komenmu tuh bikin ngakak XD nggak kok ini bukan horor hehe aku juga takut mah kalo bikin horror tang

        nahloh kalo luhan yang asli dibunuh yang ngepel sapa doong ? iyaa nih aku juga akhir-akhir ini sering parno masak, baca fanfic dikit terus asumsinya yang aneh aneh XD kalo bener jongdae di bunuh perampok sial banget ya dia berarti, harusnya dia jangan ke rumah yixing ya, bawa sial deh itu rumah kayanya huhuu

        ahahaha terus yixing cuma bisa tergolek lemah gitu sambil bilang ” luhan you bastard” hahahaha aduh bisa nih di buay sekuel hahaha iyaa aku juga kangen kamu lintang :” makasih ya sudah bacaa kamu juga keep writing, I LOVE YOU TOOO /HUGS/

  1. Oh!!!
    Astagagagagagag gak bisa bayangin itu jongdae tergolek lemas!!
    Astagagagaga kakak! Kamu bkin luhan kaya gitu? ? ! Gimana bisa? ? ?udah bunuh jongdae masih bisa bertingkah polos??
    O.m.g

    1. mhahahahaha aku bunuh jongdae nih (terus istigfar) iya maafkeun aku bikin luhan kaya begitu habis wajah dia inosen gitu kan jadi cocok hehe maafkeun luhan ya 🙂 thanks udah baca dan komen 🙂

  2. “For God’s Sake, Luhan. this fiction is so awesome, I think.”
    heheee ngutip dari salah satu dialeknya Bang Yixing di atas ^^v

    Sumpah ini keren banget! dua jempol! heheee. Saya suka cara kakak dalam menyusun kalimat perkalimat sehingga bisa membuat saya bener-bener posisinya sebagai Bang Yixing. Kaget, sama seprti yang Yixing alami, ga nyangka kalau Bang Jongdae udah ada di dalam lemari dan si rusa itu dengan polosnya telah menusuk Jongdae yang sedang terserang flu ><

    Aduh, kepolosan Luhan bikin gereget dah XD

    Semangat kak untuk ff selanjutnya 🙂 Fighting!!!

  3. jinja luhan d luar dugaan.aku suka fanfic mu.oneshoot tp berisi.ada rekomen judul laen gak ff karya mu cast exo???

    1. aaak big thanks for reading 😀 heem rekomen judul lain ? hihihi kalo rekomen fanfic ku sendiri agak susah nih XD mungkin kamu bisa ke masterlist atau mungkin baca beberapa judul di bawah fanfic ini hehe soalnya aku nggak tau sih yang mana dari fanficku yang bagus hehe selera orang beda-beda soalnya, kalo rekomen fanfic orang lain aku bisa kasih buanyaaak 🙂

  4. kaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak aku ketipu beneran. kukira ini jongdae yang bunuh luhan gitu tapi kok sampe tengah luhannya masih ada. terus kukira jongdae dibunuh perampok lain gitu, ternyata dia yang dibunuh. sama luhan pula. lah iyalah ini pusing banget jadi si yixing dia harus ngapain kan….

    tapi, sumpah, aku ga habis pikir kalo luhan yang bakal bunuh jongdae. apalagi dia masih anak-anak gitu kan. terus pas yixing masih di kereta, dia masih sempet buat nelfon yixing. apalagi dibunuhnya gegara mau ngambil lolipop dari dalem kantong. aduh luhan ;;;w;;;;

    kak, ini sih bagus banget yaa. ga ketebak gitu. dan nendang sekaliii. aku suka pokoknya hihi. maaf ya kak asa ga bisa komen panjang-panjang. tapi kakak semangat terus dan keep writing, okeee?

    1. EPIIIIIIIN aku ngakak tau pas kamu bilang kok sampe tengah luhannya masih ada haha iyalah yixing dimana-mana itu forever di repotin kayanya, aku jarang banget nemu fanfic yang yixingnnya malah ngerepotin gitu haha gapapa epin kamu baca aja aku mah udah seneng 🙂 iya kamu keep writing juga yah thanks udah baca epiin 🙂

  5. KAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK AKU MAU RUSUH BOLEH YA????????? Kak, Ya Tuhan, awalnya aku santai-santai aja. Ga ada fikiran apapun. Malah aku nyangkanya pas kakak bilang kalo Luhan itu sepupunya Yixing aku mikir gini “Jangan-jangan di sini Yixing pedo ke Luhan” dan…… aku terkejut. YAH KAK WHAT DID YOU DO???? Kenapa kakak mengorbankan Luhan untuk membunuh pria jail macam Jongdae? Oh, come on. His angelic face doesn’t suit that-kind-of-crime, sure.

    Dan kak, aku menuntut Yixing di sini! Kenapa juga dia harus ninggalin bocah kayak Luhan? Titipin ke aku kek, atau dimasukin ke dalem koper aja terus dibawa kerja (abaikan) dan yah, siapa yang tau kalo Jongdae seperhatian itu? Aku kira endingnya bakalan kayak di FF yang pernah kubaca, si Luhannya ngebunuh Yixing juga gitu misalnya-_- tapi yah, ternyata enggak. Aku agak kecewa sebenernya(?) Overall, I love your fanfic the mossssssssssttt!!!!!!!!!1

    1. INTAAAN MAU RUSUH ? SURE !
      ya aku juga sebenernya awalnya nggak ada niatan buat luhan jadi murderer disini haha justru dia muka angelic itu pantes banget jadi psycho tan 🙂 nggak nggak aku nggaj sekejam itu kok buat luhan bunuh yixing juga dia kan nggak sengaja ceritanya bunuh jongde 🙂 thanks yaah sudah baca intan :))

  6. Ya Ampun Asa, itu Luhan kecil unyu-unyu gitu kenapa dibiarin nusuk perut paman Jongdae? nanti masuk penjara gimana? yaaaaa anak kecil paranoit itu sangat berbahaya. sangat berbahaya -______- Jongdae datang disaat yang ga teoat dengan pakaian yang ga tepat dan menemui bocah cilik -untungnya ganteng- yang juga ga tepat. poor Jongdae.

  7. KAK ASA KAK ASA OMG INI APAAAA TERNYATA… TERNYATA….
    betewe kakak pasti gatau aku siapa kan? Aku nada kak, yang baru ganti uname eheheheh

    Oke, balik lagi.
    JADI TERNYATA LUHAN ASTAGA KAMU NGAPAIN SIHHHHH aku galiat kak genrenya sama sekali aku nyampe sini langsung scroll, nemu ff exo gambar yixing, buka, baca. trus aku pikir ini fanfic fluffy nan unyu antara om dan keponakannya…. ternyata. i’m lost pf words lah kak… aku ga ngira itu Luhan dan efek karena ga liat descriptionnya dulu kaliya jadi aku mikirnya ini semacam prank-nya jongdae. ditambah luhan yang masih agak mikir pas ditanya ada orang yang dateng atau enggak sumpah ya aku mikirnya prank. eh ternyata…

    OHIYA KAK AKU KANGEEEEEEEEEEEEENNNN gils rencananya pengen baca ff-ff nya kak Asa tapi gimana ini aku cuma ngintip sebentar aja abisnya masih ada tugas T^T sungguhlah, kurikulum 2013 itu sangat menyiksa. rasanya aku pengen quit dari sekolah trus terbang ke korea dan minta dilamar sama sehun.

  8. INI KEREN BANGET ASTAGAHH. Awalnya aku kira i i horror, makanya aku kira pas di rmh itu luhan setan bukan yaa *paranoid nya setinggi burj khalifa*

    bagus pake bangett, ditunggu karya lainnya, semangat!!!

  9. hai kak ‘-‘ kenalin pelanggan baru nih /? dira namanya, haha.

    dan buat FFnya…

    astagaaaa! Astagaaaa!

    LuHan kok bisa-bisanya ngelakuin itu /? dan wajahnya tanpa dosa gitu , iyalah wong masih bocah -___-“. Dan aku herannya apa Yixing ga kecium bau anyir darah? duh, kasian Yixing dong endingnya dia pasti yang jadi tersangka. Siapa yang akan percaya bocah 10 tahun melakukan pembunuhan coba? Ga masuk akal pasti bagi polisi. Kasian… aku jadi ikut mikir gimana kelanjutan hidup Yixing slanjutnya, penjara? Hukuman mati /imajinasi kelewatan/. -__-

    hah, terus lagi, kok luhan bisa mindahin badan gede jongdae ke dalam almari? /duh, banyak tanya :D/ Okeh, dipada saya makin banyak tanya lagi, udh aja. Hehe /?

  10. halo kakak aku dewi 97l 🙂
    aku nemu fic ini dari recomendnya ka put dan sumpah ini keren banget!! kebayang gimana bingungnya yixing antara milih lapor polisi atau nyelametin luhan dan lagi korbanya itu jongdae, sahabatnya. hhhhh luhan kamu terlalu paranoid nak padahal kalo kamu ga bunuh paman jongdae kamu bakalan dapet lolipop lho hihihi

    oh ya kak aku mau minta ijin keliling blog kaka ya :))

  11. Hai, sleeping panda. Aku sedang blog-walking dan terdampar di sini. Jangan tanya kenapa okey 😦
    First, waktu Lay di kereta dan tau punya adik 10 tahun bernama Luhan aku kira ini bakal jadi cerita lucu brother relationship gitu.
    Tapiiiiiii pas bagian, “Luhan menyembul dari balik pintu dapur dengan kaus yang belepotan−entah itu noda apa. Ia tampak berantakan dengan rambut coklat madunya yang kusut. Kaki-kaki kecilnyanya berjinjit-jinjit melewati lantai yang basah” aku udah langsung mikir it will bad at the end. Udah mulai curiga serius ENDINGNYA NGENA BANGET LUHAN MASIH POLOS BANGET KENAPA DI BIKIN GINI 😦 Huhuhuhuhu tapi sumpah ini keren tata bahasanya juga mengalir, ringan. I really enjoying it.
    Keep writing, btw. Xoxo

  12. luhan?? luhan psikopat kah?? astaga, demial apa jongdae dibunuh luhan?? kwkwk bacanya deg.deg.an eon dan suksea bikin melotot pas baca klimaksnya. luhan?? ampe gak tau mau ngmng apa wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s