[FF] Fate And That Soft Rain

by:SleepingPanda | Vignette | Brothership | Xi Luhan | Oh Sehun | HunHan | ♥ |

cover luhan

Setiap pertemuan selalu ada dengan cara yang istimewa

Seoul, 2009−

“Hujan ?”

Luhan membuka lebar tangannya mencoba merasakan butiran-butiran air yang tengah menari kecil di telapak tangan mungilnya. Hujan pertama di awal musim gugur dan Luhan begitu menyesal karena melupakan payung dalam list barang bawaanya hari ini.

Ia sedikit menggerutu dalam hati.

Minggu pertamanya sebagai trainee tidak begitu berjalan dengan baik. Bahkan pria berdarah cina itu tak mengetahui satu namapun dari beberapa orang yang duduk di sebelahnya. Semua begitu asing sejak seseorang yang ia tahu bernama tuan Kim memberinya kartu nama yang bertuliskan SM Entertaintment, saat ia tengah melahap es krim coklatnya di daerah Myeongdong.

Semua akan baik-baik saja.

Kata-kata itu yang ia ucapkan berulang kali. Dan ia hanya belum terlalu sadar kalau kehidupannya akan serasa lebih asing beberapa bulan kedepan.

***

Rambut coklat Luhan mulai basah terkena butiran hujan yang mulai turun dengan agak tidak santai. Ia rasa ia harus segera mencari tempat berteduh−atau ia lebih memilih pulang sehingga ia akan terkena demam esoknya.

Matanya tertuju pada sebuah kafe mungil di ujung jalan. Semakin ia mendekat, bau harum waffle panggang memenuhi indra penciumannya−Ia menyukainya.

“Selamat datang Tuan. Untuk berapa orang ?” Sebuah sapaan ramah dari salah satu pelayan kafe mengalihkan pandangan Luhan. Gemerincing bel terdengar halus di seluruh penjuru ruangan.

“Apa ?” Luhan membulatkan mata masih berusaha mencerna beberapa hal. Setelah berpikir sejenak tentang kalimat apa yang pelayan itu katakan, ia membentuk sedkit gesture dengan jarinya. “Satu orang, hanya satu.” Ia menyeringai pelan saat pelayan tersebut kembali terseyum dan mempersilahkannya masuk.

Language barrier benar-benar membuatnya kesal.

Pria berkulit putih itu mengedarkan pandangan dan segera menuju kursi kosong dekat kaca besar yang mengarah ke jalan. Sebuah sudut yang nyaman, namun ada masih beberapa alasan mengapa ia memilih tempat itu. Agar ia bisa melihat hujan yang turun agak deras dengan leluasa.

Luhan membalik pelan buku menu berwarna biru terang itu. “ Cheese cake dan secangkir Machiato.” Dan pelayan pria itu tersenyum.

“Pesanan anda akan datang sebentar lagi tuan.”

Khamsahamnida.” Luhan membalas senyum pria itu dan mengatakan terima kasih dengan aksen bahasa korea khas miliknya.

Setelah memastikan pelayan tersebut menghilang di balik pintu dapur, Luhan mengalihkan pandangan kearah kaca besar yang agak buram di sebelahnya. Ia menatap nanar jalanan yang lengang dan tersenyum kecil saat ia melihat beberapa orang yang menggerutu sambil mengusap pundak dan rambut mereka, mencoba bersabar untuk tidak memaki supir bus yang terlambat.

Setidaknya, suasana hujan di Seoul hampir sama dengan Beijing.

***

Suara gitar akustik mengalun lembut di seluruh ruangan. Harum kopi hangat berbaur dengan sedikit bau hujan yang samar membuat perasaan Luhan sedikit tenang.

Luhan mendesah pelan. Senyum yang tadi sempat terukukir tipis di wajahnya hilang sempurna, menampakkan wajah yang sedikit muram saat perasaan asing itu kembali melandanya. Pikirannya terganggu oleh banyak hal beberapa hari ini.

Tentang ia yang menerima tawaran sebagai seorang trainee, tentang ia yang harus menyudahi masa sekolah demi impian besarnya dan tentang masa depannya yang begitu buram. Terkadang semua keputusannya membuatnya sedikit frustasi. Apakah ia sudah mengambil arah yang tepat ? Semua terjadi di luar kendali nya.

Hampa. Perasaan itu yang sering muncul dalam diri Luhan−terlebih saat ia sedang sendirian.

Terkadang ia tak begitu tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dan apa sebenarnya yang ia kejar. Suatu saat ia bisa begitu ambisius namun terkadang ia merasa terlalu lelah dengan semua hal. Dan kenyataan bahwa ia hanya seorang diri, membuat perutnya mual. Ia hanya sedikit merasa kesepian−mungkin.

Gemerincing bel kembali berbunyi, membuat Luhan menoleh. Seorang pria beracakap di depan pintu kafe dengan seorang palayan. Rambut dan bajunya basah, mulutnya membentuk sedikit seringaian. Luhan merasakan sesuatu di tengkukya. De javu.

Pria itu mempunyai kulit putih pucat dan mata yang sedikit lelah. Tak ada yang istimewa dengan pria tersebut. Hanya seorang remaja belasan tahun dengan seragam sekolah yang agak berantakan. Luhan sempat menatap pria itu berjalan kearah kasir dan memesan sesuatu sebelum ia terseret kembali ke dalam lamunam kecilnya.

***

“Permisi, boleh aku duduk di sini ?”

Suara berat seorang pria menyita perhatian Luhan. Ia mendongak dan mendapati lelaki berkulit pucat itu menatapnya lekat−meminta sebuah anggukan dari Luhan. Sejenak Luhan mengerutkan alis.

“Semua tempat duduk sudah penuh, dan−“ Pria itu memotong kalimatnya sendiri. Merasakan aura canggung yang kentara.”−hanya tempat ini yang kosong.”

“Duduklah.” Luhan mengambil cangkirnya dan menyesap sisa machiato nya.

Khamsahamnida.”

Dengan sedikit anggukan canggung, pria itu menaruh minuman yang baru saja dibelinya. Bubble Tea−salah satu dari beberapa minuman favorit Luhan.

“Kau suka bubble tea ?” Pria itu mendongak, terkejut atas perkataan Luhan.

“Hem, sangat malah. ” Ia mengangguk mantap sambil tersenyum. “Bahkan aku bisa minum sampai lima gelas dalam sehari.”

Dan perkataan pria didepannya membuat Luhan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Ia tak menyangka bahwa ia bukan satu-satunya pria aneh yang terobsesi dengan bubble tea.

“Ada yang aneh ?”

“Tidak. Hanya saja, sepertinya bukan hanya aku yang terobsesi dengan minuman itu.” Luhan masih tertawa sendiri. Ini pertama kali nya Luhan bisa tertawa dengan lepas di depan orang yang bahkan tak ia kenal. Perasaan yang asing −lagi− namun kali ini lebih menyenangkan.

Saat Luhan menatap pria di depannya, ia sedang tersenyum hangat. Memperlihatkan matanya yang membentuk garis melengkung sempurna. Kulit putih pucatnya terpapar sinar matahari lembut yang berhasil menembus awan mendung yang mulai menipis. Hujan sudah agak mereda beberapa waktu yang lalu, berganti dengan gerimis lembut.

Waktu terus berjalan bahkan sebelum Luhan sempat menyadariya

“Sepertinya aku harus pergi, latihanku di mulai sebentar lagi.” Pria bubble tea itu melihat jam di pergelangan tangannya dan dengan cepat mengambil tas miliknya.

“Latihan ?”

Ia mengangguk.”Kehidupan seorang trainee selalu menuntutmu untuk bersaing dengan waktu.”

Pria itu kembali tersenyum memperlihatkan ketulusan dan kelelahan sekaligus.

“Kalau kita bertemu lagi, mari minum bubble tea bersama di sini.” Pria itu melambaikan tangannya pelan, mengucapkan sedikit kalimat perpisahan. Punggungnya menjauh dan Luhan hanya menatapnya nanar tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Ah, ada sedikit hal yang terlupa.” Pria itu berbalik, menghadap sempurna kearah Luhan yang masih sibuk dengan pikirannya.

“Namaku Oh Sehun. Kau ?”

Hujan yang sudah benar-benar reda, membuat kafe perlahan menjadi sepi, membuat musik blues lembut terdengar di antara dentingan piring dan gelas kaca yang beradu. Luhan terpaku, pikirannya sibuk mencerna sensasi aneh yang ada di perutnya. Sejuta pikiran tentang pria ini meledak begitu saja di otaknya. Ia mengerjap pelan. Bau hujan yang perlahan memudar, seolah baru saja membangunkannya dari mimpi yang panjang.

Sepertinya Luhan telah sadar akan apa yang selama ini ia inginkan, apa yang ia butuhkan.

Bibir Luhan terangkat membentuk seulas senyuman.

“Aku Luhan, Xi Luhan.”

When the soft rain pour in the beginning of fall, we would meet again.

―END

Note:
The weirdest one, yeah ? FF dengan cast HunHan pertamaku, semoga readers bisa suka. Inspired by some HunHan’s fanfic I’ve read (they’re very amazingly wrote) plus Park Bo young’s “My Prince”. Maaf banget kalau alurnya terlalu cepat *bow
fic ini sudah di publish di beberapa blog 🙂 jadi jangan kaget kalo menemukan ff yang sama. Selama authornya masih sleepingpanda it’s okay

Advertisements

8 Comments

  1. wow.. I like it oenni.. Emm.. Aku dulu pernah baca di blog sebelah tapi gak komen. Hehe *ampun.. Dulu aku sider*
    AWESOME…
    Aku suka yang ‘Dan kenyataan bahwa ia hanya seorang diri, membuat perutnya mual.’
    keren gitu loh.. *always…*

    1. aaaaaa >.< aku bener-bener terharu kamu mau komen di fic-fic punya aku T^T #hug
      aku bener-bener ga tau deh mau ngomong apa selain makasiih T^T
      ah, iya kalo fic ini aku kirim ke beberapa blog haha~
      aku juga sering mual-mual gitu kalo lagi sendirian XD #abaikan
      once again, thankyou !

  2. Aku suka Hunhan, aku suka fanfic ini, dan aku juga suka sama authornyaa ❤ /sksd/
    Disini lagi hujan deresss banget, cuacanya juga dingin. persis kayak di fanfict ini ya, kekeke. Sayangnya gaada bubble tea disini. Aku ga pernah minum bubble tea, jadi kepengen *curcollagi

    aku pengen ngutip bagian favorit aku dari fanfic ini tapi aku gabisa. habisnya aku suka semuanyaaa, tiap kata per kata aku sukaa banget, serius…

    1. aku suka banget sama Hunhan dan aku suuuka banget sama kamu yang udah mau baca terus komen di fanfic-fanfic aku :’) terharu T^T
      waaah ! aku pas nulis ini juga lagi hujaan /jadi dapet inspirasi hahaha/ oke, aku pernah sekali minum bubble tea gara-gara penasaran banget kok HunHan segitu cintanya sama minuman itu, tapi….. rasanya gak enak banget sumpah, hambar T^T aku ga tau emang rasanya kaya gitu apa aku yang salah pesen apa mbak yang jualan yang ga niat bikin, masih misteri /ini alah curhat kan/

      tiap kata di komen kamu aku juga suka bangeet, sumpah jadi ga tau nih harus ngomong apa soalnya aku seneng banget kamu mau baca T^T makasih yaaa makasiiih banget 😀

  3. Hai,, eonii?
    ini fic kedua buatan eoni yang aku bca stelah summer and soccer-yang fluff akut- kkk~
    aku suka interaksi hunhan disini >w<
    and this fic is beatufiully-written *-*
    like it ^^

  4. aku gatau musti komentar apa. yang jelas, aku selalu suka segala bentuk ff yang ber-cast-kan Hunhan :3 ff ini singkat, tapi memberi kesan idah (?) aduh, itu apa sih namanya -_-
    aku sukaaaa. simple but awesome! sweet lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s