[FF] In That Afternoon

| Romance | Ficlet | Xi Luhan | Han Ahreum (OC) | ♥ |

 

coverita

Lelaki itu masih melihat Ah Reum dengan sedikit senyum jahil terbentuk di bibirnya. Ah Reum menghela napas panjang dan memutuskan untuk mengalah pada lelaki di depannya setelah beberapa perdebatan kecil. Dengan kalimat-kalimat paksaan−yang lebih terdengar seperti ancaman di telinga Ah Reum− lelaki itu berhasil membuat gadis itu naik ke boncengan sepeda tua nya.

“Naiklah.”

 

Lelaki itu tersenyum lembut sambil menepuk-nepuk tempat kosong di belakang tubuhnya dengan semangat. Ah Reum melihat sepasang iris hitam bening miliknya sekilas lalu menggerutu dalam hati. Selalu seperti itu, Ia selalu saja bisa dikalahkan oleh senyuman seorang Xi Luhan.

 

 

“Sudah, ayo jalan.” Ah Reum berkata lirih setelah rasa dingin dari besi boncengan sepeda itu tak terasa lagi di pantatnya. Dan beberapa detik kemudian, sepeda Luhan bergerak  pelan menembus udara dingin awal bulan Januari.

 

“Kau tidak mau pegangan, nona Han ?” Lelaki itu terkekeh pelan.

 

“Untuk apa aku pegangan ?”

 

“Aku tidak tanggung jawab kalau kau sampai jatuh.” Luhan berkata tenang sambil terus mengayuh sepeda yang terasa lebih berat dari biasanya.

 

“Pegangan atau kau akan jatuh.”

 

Dengan satu kalimat ancaman yang dikeluarkan Luhan, membuat tangan Ah Reum secara tak sadar meremas bagian belakang sweater kelabu milik Luhan. Ia menghela napas keras. Sejenak gadis itu merasa kesal saat mengetahui kenyataan bahwa ia tak akan pernah bisa membantah kata-kata Luhan, pria yang selalu ada di sampingnya sejak hampir tiga tahun terakhir. Namun bukan sebagai kekasih, melainkan tak lebih dari sekedar seorang sahabat

Tak ada yang mereka bicarakan sampai saat ini. Namun sesekali Ah Reum bisa mendengar sedikit suara Luhan yang menyenandungkan sebuah lagu. Ah Reum sedikit tersenyum. Biasanya,  gadis seumurannya lebih suka di antar pulang dengan mobil atau motor sport . Namun tidak dengan Ah Reum. Ia rasa sebuah sepeda tua tanpa mesin sudah cukup buatnya− jika Luhan yang mengendarainya.

Langit Seoul berubah menjadi oranye dan saat itu Ah Reum merasa kalau udara bisa saja membekukannya. Ia merapatkan syal rajutan berwarna peach miliknya untuk sekedar mengurangi udara dingin yang masuk ke sela-sela seragam tipis nya. Senyum yang tadi sempat terbentuk di mulutnya perlahan menghilang. Kakinya bergerak gelisah.  Terlalu banyak hal-hal yang menganggu pikirannya saat ini.

 

“Kau sedang gelisah ?” Suara berat Luhan memecah keheningan. Matanya masih tertuju pada jalanan.

 

Sontak Ah Reum menghentikan gerakan kakinya “Ba-bagaimana kau tahu ?”

 

It’s your habbit. Kakimu selalu bergerak tak karuan ketika kau sedang gelisah.”

 

Ah Reum sedikit kaget. Bahkan pria di depannya itu tahu tentang kebiasaan yang selama ini tidak disadari Ah Reum sendiri. Dan di saat-saat seperti inilah Ah Reum kembali ingin menangis.

Sejenak, Ia bisa melihat rambut coklat halus milik Luhan yang bergerak lembut karena angin dingin sore itu. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada sweater milik Luhan.

 

“Mengapa kau tidak pulang dengan gadis itu ?” Suara Ah Reum sedikit bergetar.

 

“Gadis ? Ah, gadis yang tadi menyatakan cinta padaku ?” Luhan terkekeh pelan. “Kau begitu penasaran, nona Han ?”

 

Muka gadis itu berubah merah.

 

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku !” Ah Reum sadar ia begitu bodoh dan kalau bisa ia ingin segera sampai di rumah dan melesat masuk.

Luhan tidak menjawab. Dan hal itu membuat Ah Reum semakin merutuki dirinya sendiri atas pertanyaannya yang begitu konyol.

Hanya beberapa menit saja Luhan tidak mengeluarkan suara namun itu terasa ber jam-jam bagi Ah Reum. Saat ini yang bisa Ah Reum dengar hanya suara gesekan pelan ban sepeda dengan aspal kasar yang dingin. Dan ia tidak suka keadaan seperti ini.

 

“Aku hanya ingin bertemu denganmu.” Suara Luhan kembali memecah keheningan. Luhan tidak menghentikan sepedanya. Ia terus mengayuh. “Aku-aku menyukaimu.”

 

Raut muka Luhan yang kelihatan tenang sangat kontras dengan Ah Reum yang masih sibuk mencerna kalimat yang baru saja Luhan keluarkan. Dan saat ia sadar, ia menarik kasar sweater Luhan.

 

“Bodoh.”

 

Mungkin saat ini muka Ah Reum telah berubah merah. Ah Reum tak butuh Luhan untuk mengulangi kata-katanya barusan. Dan bisa Ah Reum pastikan ia sudah punya jawaban yang ia butuhkan. Semburat ungu kemerahan terbentuk di langit senja sore itu. Ah Reum menggerakan kakinya pelan. Dan saat ini ia merasa kalau udara pertengahan musim dingin tidak selalu buruk.

 

Ah Reum sedikit terkekeh. “Haruskah ku jawab ‘aku juga’ tuan Xi ?”

 

end

Note:

It’s weird yah ? Fic ini udah lama aku buat sebenernya hehe 😀 sorry for some mistakes and typos,-I’m human too *and sorry for that sucking poster ._.v

Advertisements

11 Comments

    1. Ya Luhaan, ini ff padahal abal banget dan ide juga lagi ga keluar X(
      aku sampe mau ketawa kalo re-read ff ini hahahaha~
      as usual, thanks for reading and commenting~ 😀

  1. Luhan sama Ahreum manis banget beduaaa~ pake acara nyatain cinta sambil naek sepeda lagi. aku ngebayangin settingnya sore sore, matahari mau terbenam… asik banget lah itu, hihihi. aku kan juga mau dibonceng naik sepeda sama Luhan… /kumat.
    lha, kok aku selalu sirik sama tokoh cewek di tiap fanfic kak Asa ya hahaha. aku envy sama Deokhye yang naik kuda sama Suho, aku envy sama Lim yang bisa makan parfait sama Lulu, sekarang aku envy (lagi) sama Ahreum -_-

    meskipun ceritanya simple, tapi cara kak Asa ngegambarin situasi bikin ceritanya ga bikin bosan, malah terasa manis. engga perlu bahasa tingkat dewa yang rumitnya bikin pening itu, kayak gini aja udah bagus, buktinya aku senyum senyum sendiri bacanya 🙂 terus aku suka posternya lho. aku suka poster-poster buatan kak Asa, kesannya simple-elegant gitu. nah, kalo aku? buat poster aja gabisa, make photoshop aja ga becus T^T

    banyak banyak tulis fanfic romance yang sweet-fluffy gini yooo kak Asaaa 😉

  2. here, little baby lu let me squeeze you for a while x’)
    first, you got me at this: “Kau tidak mau pegangan, nona Han ?” <– ini semacam apa yaa ngomongnya, yaampun pokoknya aku bayanginnya muka luhan adorable banget disiniii. yang dia jahil ditambah doe eyes-nya itu lhoo huhu.
    terus disini kan diceritainnya luhan pake sweater ya, aah inget foto luhan di bandara waktu dia pake sweater abu-abu demi apapun, itu ada satu foto yang nangkep dia lagi flawless banget, dan aku keinget foto yang ituuu.. terus, terus disini rambutnya luhan masih yang warna emas itu yaa, kinda miss that honey brown hair. luhan sama rambutnya yang jaman mama dulu itu otp banget. sebel sama stylist noona kenapa rambut dia jadi oren ngejreng gitu u_u (abaikan aku masih galau gabisa move one dari jaman mama) xD
    like this, like this ^^/

    1. aduh ampun deh fiik, ini kenapa kamu baca fanfic yang ini sih ? ini udah lama banget, jaman-jaman masih abal banget (sampe sekarang masih sih ) :”
      ga usah fik, ga usah dibayangin se adorable apa muka luhan itu, efeknya ga baik, bisa-bisa kamu senyum-senyum sendiri seharian terus di kira orang ga beres hahaha (oke, aku udah pernah nyoba yang satu itu ) dan masalah doe eyes luhan…. ITU APA BANGET MATA DIA UDAH BERASA PENGEN NYONGKEL /ganyante

      ga tau kenapa aku suka banget sama cowok yang pake sweater fiik >.< luhan plus muka unyu-unyu nya itu pas banget kalo pake sweater apalagi yang agak kegedean gitu mhahahaha /yaampun yaampun yaampuun ! hahahaha I love his honey brown hair XD dia emang paling pas kalo rambutnya coklat emas gitu, ga kaya sekarang yang udah di apa-apain huiks, dari coklat-pink-oren… oke, bentar lagi cat merah tua aja sekalian !

      makasih banyak fiik udah mau baca dan komen (terharu) komenmu itu udah kayak angin sepoi di siang bolong (apaini ?) :"

  3. AAAA;;; LUHAN! demi apa, aku meleleh bacanya. tidak terlalu bertele-tele, tapi nggak tau ya ngerasa pas banget. cukup dengan perbuatan-perbuatan simple tapi dia udah mampu membuat jantung berdetak nggak karuan -_- ini bener-bener fluffff ❤ menyatakan perasaan saat senja mulai pulang keperaduan, dengan cara yang simple pula. meskipun (kalo) ada yg bilang nggak seromantis kek di drakor, tapi bagiku ini sangat romantisss

  4. Itu kalau aku yang dibonceng sama Luhan ga pake malu-malu lagi langsung pegangan hahahahaha Luhan kenapa pesonamu memabukkan? :X Luhan cama ceritannya sama rasannya sama minum air gula asa. kamu harus tangggung jawab ini saaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s